0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Rohis Diminta Dapat Menjunjung Tinggi Toleransi

Pembinaan Rohis di Wonogiri (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Upaya penanggulangan penyebaran paham radikalisme, berita hoax serta ujaran kebencian terus digencarkan. Di antaranya melalui pembinaan Rohis (Kerohanian Islam) menyasar di kalangan pelajar dari belasan sekolah (SMA/SMK/MA) di Wonogiri. Pembinaan Rohis ini melibatkan sejumlah instansi, termasuk mendatangkan pakar atau narasumber dari lembaga perguruan tinggi di Solo.

“Ini merupakan kegiatan dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme juga memberikan wawasan kebangsaan dan mendalam terhadap para peserta untuk memiliki sikap anti kekerasan/radikal dan saling menghargi dan mencintai sesama umat beragama. Maka peran serta pelajar yang tergabung dalam Rohis dapat menjunjung tinggi toleransi, sehingga tercipta situasi Kamtibmas yang kondusif. Dan yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Apalagi di era saat ini, perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungawab demi kepentingan pribadi maupun kelompok,” papar Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede, Rabu (18/4).

Pembinaan Rohis kali ini melibatkan sejumlah instansi seperti Kementrian Agama Wonogiri dan 58 pelajar yang merupakan perwakilan dari 17 sekolah (SMA/SMK/MA) serta narasumber dari IAIN Surakarta.

Kapolres mengatakan, kalangan pelajar (Rohis) diharapkan dapat menjadi suritauladan dan dapat memberikan kesejukan di tengah masyarakat. Mereka pun digadang tidak mudah dihasut, terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, sehingga kerukunan antar umat beragama di Wonogiri tetap terjaga.

“Kami ingin dalam diri para Rohis ini tertanam jiwa kepemimpinan yang memilik kepedulian tinggi, punya wawasan luas, punya komitmen kuat dan bertaqwa,” ujar Kapolres.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri, Subadi mengatakan, pelajar yang tergabung sebagai pengurus Rohis dapat menjadi anak yang saleh dan salihah, berbakti dan menjadi penyejuk hati orangtua dan masyarakat. Kepala Kemenag mengatakan, pendidikan sejati adalah tidak menekankan pada pelajaran teknologi namun harus bisa membentuk peserta didik yang berkarakter beriman, bertaqwa dan berakhlakul karimah.

Sementara itu, dosen IAIN Surakarta Muhammad Yuliyanto menambahkan, radikalisme adalah aliran yang menginginkan dibentuknya faham kekerasan. Sehingga perlu adanya pemahaman agama secara kafah.

Menurutnya, radikal bisa bermakna positif dan negatif. Dari sisi yang positif adalah menuju perubahan ke arah lebih baik yang lazim. Namun di sisi lain makna negatif, radikalisme akan menjadi berbahaya jika sampai ada tataran melampaui batas dan keterlaluan ketika dipaksakan pada pemeluk agama lain.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge