0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kisah Bumi Angker Jatiroto

Tak Ada Pejabat Berani Datang ke Petilasan Ini

Petilasan Pertapaan Pangeran Kajoran di Desa Pengkol, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri (dok.timlo.net/ist)

Wonogiri — Petilasan pertapaan Pangeran Kajoran di Dusun Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri erat kaitannya dengan cerita turun temurun yang kini telah melegenda di kalangan masyarakat setempat. Lokasi petilasan tersebut, dari kota kecamatan ke selatan sekitar tujuh kilometer ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat.

Nama pertapaan itu oleh masyarakat disebut Bumi Angker. Sesuai namanya, konon di masanya, daerah itu kerap terjadi hal-hal ganjil atau di luar akal sehat manusia. Bahkan, sampai saat ini, kalangan pejabat, PNS dan bangsawan atau “darah biru” pantang memasuki wilayah itu, jika tak ingin sesuatu hal menimpanya.

Hal ini erat kaitannya dengan cerita Pangeran Kajoran. Di dalam cerita rakyat Kecamatan Jatiroto diyakini bahwa Pangeran Kajoran merupakan putra selir dari Raja Mataram yang bertahta pada tahun 1555 Masehi yaitu Sultan Hanyokrokusumo. Daerah yang kini disebut Bumi Angker, awal mulanya merupakan sebuah padukuhan yang dipimpin seorang demang, Demang Mbaran namanya.

Saat itu padukuhan tersebut marak terjadi perampokan dan pencurian. Lantaran wilayah Bumi Angker dahulu terkenal ayem, tentrem, kertaraharjo, loh jinawi. Karena ,masyarakat dan pamong padukuhan kewalahan menghadapi serangan “begal kecu” (perampok) yang sakti mandraguna, maka sang Demang Mbaran pun meminta bantuan Sultan Hanyokrokusomo.

“Lalu Kanjeng Sultan membuat sayembara, barang siapa berhasil menumpas begal kecu akan mendapat bebono (hadiah). Kemudian datanglah seorang pemuda yang rupawan datang mengikuti sayembara. Ia adalah Pangeran Kajoran yang tak lain putra dari istri selir Sultan,” cerita tokoh masyarakat yang juga Kepala Dusun (Kadus) Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Jatiroto, Montong Sularto saat dikonfirmasi Timlo.net, Minggu(15/4).

Karena kesaktiannya, Pangeran Kajoran mampu membabat habis pengacau keamanan di padukuhan itu. Lalu, ia pun kembali ke Keraton Mataram menghadap Sultan Hanyokrokusomo mengabarkan jika dirinya sudah mampu merampungkan sayembara ditemani oleh Sang Demang Mbaran.

Namun keberhasilan Pangeran Kajoran itu ternyata membuat iri hati salah satu putra permaisuri. Lalu dibuatlah tipu muslihat bahwa yang menumpas begal kecu di Padukuhan Mbaran adalah masyarakat Mbaran sendiri, sedang Pangeran Kajoran mabuk kepayang dengan putri Ki Demang Mbaran yang cantik jelita.

Mendengar hal memalukan itu, Sultan Hanyokrokusumo murka dan memerintahkan kepada Pangeran Kajoran untuk membunuh putri Demang Mbaran. Lantaran tak sampai hati, Pangeran Kajoran memilih keluar istana dan mengembara hingga sampailah di pertapaan di  Desa Pengkol.

“Saking bencinya dengan keluarga keraton, Pangeran Kajoran di dalam tapabratanya mengucapkan sumpahnya, jika ada trah keraton, bangsawan menginjakkan kakinya di Bumi Angker maka dia dikutuk diturunkan jabatan hingga kematiannya,” bebernya.

Menurut dia, sampai saat ini tidak ada satupun pejabat di tingkat kecamatan ataupun kabupaten, kepolisian berani menginjakkan kakinya di Bumi Angker. Bahkan,konon camat setempat pun jika berkunjung di Desa Pengkol hanya cukup sampai di kantor desa setempat saja.

Berbeda dengan perangkat desa setempat, bisa datang ke petilasan itu akan tetapi dengan niat yang baik. Montong Sularto pun menyatakan, sampai saat ini petilasan yang memiliki luas hampir 1000 meter persegi itu dijaga oleh sosok harimau. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun warga yang berani mengambil atau menebang pohon di sekitar petilasan.

“Setiap malam Jumat, lokasi petilasan masih sering dikunjungi peziarah untuk ritual ngalap berkah. Kebanyakan meminta keselamatan, kederajatan dan kepangkatan,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge