0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Akses Masuk Keraton Dibatasi, Ini Kekhawatiran Para Abdi Dalem

Keraton Surakarta (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo — Sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta mengkhawatirkan kondisi berbagai pusaka di dalam Keraton Surakarta. Pasca Tingalan Jumenengan Pakubuwana XIII yang digelar akhir April tahun lalu, pintu-pintu Keraton terkunci rapat bagi para abdi dalem. Otomatis, mereka tidak bisa melaksanakan kegiatan kebudayaan di sana.

“Termasuk kegiatan ngisis (mengangin-anginkan) wayang kulit, perawatan naskah kuno. Semua akses ditutup. Kita tidak bisa masuk,” kata salah satu Abdi Dalem Keraton, Saptono Jati kepada wartawan, Senin (9/4).

Akhir April 2017 lalu, Keraton Surakarta menggelar Tingalan Jumenengan Pakubuwana XIII. Momen itu adalah yang pertama kalinya Sinuhun Pakubuwana XIII dan adik-adiknya yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat berada dalam satu acara Tingalan Jumenengan. Banyak pihak berharap acara tersebut menjadi babak baru bagi Keraton Surakarta. Semua kelompok yang berada di internal Keraton diharapkan dapat duduk bersama merundingkan masa depan Keraton dan melupakan konflik masa lalu.

Namun harapan tersebut hanya bertahan seumur jagung. Beberapa bulan setelah Tingalan Jumenengan, perbedaan antarkelompok di internal Keraton kembali menguat. Pakubuwana XIII memerintahkan akses ke dalam Keraton diperketat. Kori Kamandungan, pintu masuk utama Keraton, dikunci rapat.

Pembatasan akses ini menyebakan abdi-abdi dalem Keraton tidak bisa menjalankan tugas mereka sehari-hari. Salah satu adik Pakubuwana XIII, GKR Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng mengatakan, untuk menyapu Keraton pun mereka tidak diperkenankan kecuali hanya segelintir abdi dalem. Itu pun hanya beberapa hari dalam seminggu.

“Awalnya mereka tidak berani karena dilarang. Akhirnya saya paksa (masuk untuk menyapu). Lha gimana lagi? Kalau tidak begitu ya tidak ada yang merawat,” kata dia.

Saptono Jati yang dahulu menjabat sebagai Karti Praja (personalia) pun mengeluhkan hal serupa. Ia mengkhawatirkan nasib berbagai macam pusaka yang tersimpan di dalam Keraton seperti wayang dan naskah-naskah kuno.

“Di dalam ada 17 kotak wayang. Satu kotak isinya bisa sampai 300 lembar. Dulu kita selalu ngisis seminggu sekali supaya tidak lengket. Belum lagi naskah-naskah kuno yang ada di Sasana Pustaka,” kata dia.

Saptono sendiri tidak mempermasalahkan siapa yang menguasai Keraton saat ini. Ia hanya berharap aset-aset keraton yang memiliki nilai sejarah dirawat dengan baik.

“Lepas dari siapa pun yang pegang, itu kan harus dijaga. Kalau kami dikeluarkan misalnya, siapa yang ngopeni? Ternyata tidak ada. Pembiaran ini bagaimana? Apa mau diterus-teruskan,” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge