0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Peretas Totem Hotel Megaland Mengaku Tak Sengaja

Wakapolresta Solo, AKBP Andy Rifai (kiri) dan Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Agus Puryadi memeriksa tersangka kasus peretasan papan totem milik Hotel Megaland, Solo (foto: Achmad Khalik)

Solo – Tersangka peretas papan totem atau promosi Hotel Megaland Solo, Taufik (28) berdalih tidak sengaja saat mengunggah tulisan tidak senonoh hingga menjadi viral di sosial media (sosmed) pada Rabu (28/2) lalu. Dia mengaku jika ingin melakukan blocking content video porno yang ada di handphonenya.

“Sungguh, saya tidak sadar jika tulisan itu sampai terkoneksi dengan papan reklame (totem-red) hotel. Saya cuma ingin memblocking video porno di hp saya. Tapi, terkoneksi dengan wifi hingga tersambung di papan tersebut,” terang Taufik saat ditanyai wartawan di Satreskrim Polresta Solo, Selasa (20/3) siang.

Taufik mengaku, jika selama ini dirinya memegang bagian IT di Hotel Megaland, Solo. Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai karyawan di hotel tersebut, Taufik mendapat akses untuk mengganti papan promosi hotel tempat dia bekerja.

Namun, saat insiden itu terjadi dirinya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya bakal berbuntut panjang.

“Saya gak ada niatan untuk mengganti tulisan di papan itu dengan tulisan tidak senonoh. Saya cuma ingin melakukan blocking saja. Tapi, ternyata terkoneksi dengan jaringan wifi di papan totem tersebut,” jelas tersangka.

Sementara itu, Wakapolresta Solo, AKBP Andy Rifai mengatakan, meski tersangka berdalih tidak sengaja akan tetapi telah terbukti jika tersangkalah yang mengganti tulisan tersebut. Pihaknya tetap melanjutkan proses hukum dengan menjerat tersangka menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE).

“Tetap akan diproses. Biar hakim yang nanti memutuskan tersangka bersalah atau tidak,” katanya.

Selain menangkap tersangka, Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yakni papan totem milik Hotel Megaland, dua buah handphone, controller, dan power suplay.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 46 ayat 1 jo Pasal 30 ayat 1 atau Pasal 51 ayat 1 jo Pasal 36 UU RI No11 tahun 2008 jo Pasal 45 ayat 1 No19 tahun 2016 tentang Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge