0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Gawat, Topeng Dalang Klaten Terancam Punah

Slamet Wardono, dalang muda Klaten usai tampil menari Topeng Dalang (dok.timlo.net/awijaya)

Klaten — Dalang muda asal Klaten, Slamet Wardono (33), berharap keberadaan kesenian Topeng Dalang diperhatikan oleh pemerintah daerah. Pasalnya, eksistensi seni tradisi asli Klaten yang sedang didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia ini terancam punah.

“Di Kabupaten Klaten kondisinya sangat memprihatinkan. Karena dari pihak pemerintah daerah pun belum tahu adanya keberadaan Topeng Dalang di Klaten. Padahal ini sudah ada sejak ratusan tahun. Lama banget,” ujar Slamet Wardono, Kamis (15/3).

Menurut dalang muda asal Desa Somokaton, Kecamatan Karangnongko ini, topeng sebagai karya seni menyimpan kekayaan filosofis baik etika, moral, maupun keindahan. Bahkan seorang Empu atau pembuat topeng tradisional pasti membikinnya dengan sepenuh hati. Tak heran ekspresi topeng yang dibuat mencerminkan karakter baik maupun jahat seorang manusia.

“Banyak makna filosofisnya. Mulai dari karya seninya, pahatan, dan raut wajah yang menyerupai wajah seseorang. Padahal ini kan barang mati. Tapi di tangan empu-empu zaman dulu, barang mati ini bisa ‘hidup’ seperti ada rohnya. Kalau saya sendiri cuma penggembira. Enggak memiliki memori tentang Topeng Dalang,” ujar pria yang akrab disapa Dono ini.

Dalam pementasan singkat tari tradisi Topeng Dalang di Pendopo Soeboer di Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Rabu (14/3) kemarin, Dono bersama kakak perempuannya yang juga dikenal sebagai dalang yakni, Giyah Supanggah Siswo Pandoyo, tampil bergantian.

“Ini dulu topeng peninggalan orangtua saya. Karena di Klaten itu kebanyakan pemeran Topeng Dalang itu ya para dalang atau trah-nya. Sedangkan jalan cerita yang dimainkan mengangkat cerita Panji. Harapan kami, mudah-mudahan pemerintah derah mulai memperhatikan eksistensi Topeng Dalang,” paparnya seraya menunjuk topeng berwarna hijau bernama Lembu Amiluhur yang merupakan raja pertama Janggala.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge