0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kekosongan Darah di PMI dapat Memicu Jual Beli

Timlo.net — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengajak masyarakat mendonorkan darah agar persediaannya tidak sampai kosong karena rawan terjadi jual beli darah.

“Kalau darah kosong, terkadang keluarga pasien mencari sendiri pendonor. Bahkan mungkin tanpa sepengetahuan kami, ada pendonor yang minta bayaran sehingga terjadi jual beli darah. Disinyalir itu ada terjadi,” kata Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Kotawaringin Timur dr Yuendri Irawanto, di Sampit, Rabu (21/2).

Permintaan darah di Kotawaringin Timur cukup tinggi, sementara persediaan darah terbatas. Unit Transfusi Darah saat ini rata-rata hanya bisa menyediakan darah sekitar 400 kantong per bulan.

Unit Transfusi Darah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan pendonor. Pendonor tetap selalu diingatkan melalui pesan singkat jika tiba saatnya mereka harus mendonorkan darahnya.

Kendalanya, sebagian pendonor tidak berada di Sampit, tetapi di perusahaan-perusahaan besar atau kecamatan yang jauh dari pusat kota. Untuk mengatasi ini, akan dilakukan donor darah secara massal dengan rutin.

Masih sering terjadi kekosongan stok darah, membuat potensi jual beli darah masih tinggi. Permasalahan muncul ketika darah yang sudah diambil dan diperiksa ternyata tidak bisa dipakai karena sebab tertentu, sehingga bisa menimbulkan konflik antara PMI dan keluarga pasien.

Yuendri menjelaskan, biaya yang dikeluarkan warga ketika meminta darah Unit Transfusi Darah PMI bukan biaya untuk pembelian darah. Biaya tersebut merupakan biaya penggantian pengolahan darah seperti untuk pembelian kantong darah, alat pemeriksa, dan lainnya.

Menurut Yuendri, sesuai keputusan pemerintah pusat dan ditindaklanjuti melalui peraturan bupati, sudah diputuskan biaya satu kantong darah Rp 361.000 yang digunakan sebesar Rp 335.000 untuk biaya pengolahan darah di PMI dan Rp 25.000 untuk uji silang kesesuaian antara pendonor dan penerima donor darah di bank darah rumah sakit.

“Tidak semua darah bisa dipakai karena ada penyakit yang bisa menular melalui transfusi darah, seperti TBC, hepatitis, sifilis dan HIV/AIDS,” kata Yuendri.

Diakuinya, pihaknya memang belum mampu menyediakan setiap permintaan darah. Seperti bulan ini, pihaknya kewalahan untuk memenuhi permintaan darah golongan O karena meski banyak orang memiliki golongan darah ini, namun permintaannya juga tinggi.

Unit Transfusi Darah berupaya meningkatkan pelayanan agar darah bisa dipilah-pilah. Tujuannya agar setiap kantong darah bisa dimanfaatkan oleh lebih dari satu orang dengan kebutuhan komponen yang berbeda di dalam darah tersebut.

Tahun 2018 ini, Unit Transfusi Darah dapat menyediakan lemari pendingin penyimpanan darah dengan kapasitas 700 kantong darah. Yuendri berharap jumlah pendonor terus bertambah karena permintaan darah juga terus bertambah.

Yuendri menambahkan, jika tahun 2019 nanti Kotawaringin Timur sudah berlebih, maka akan dikoordinasikan dengan PMI provinsi untuk memberikan pelayanan kepada kabupaten lain yang belum mencukupi seperti Katingan, Seruyan dan lainnya dengan kualitas darah yang bisa dijamin sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan.

Sumber : Antara

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge