0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Biografi Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Catatan Jalan Terjal Sang Marsekal

(Buku Anak Sersan Jadi Panglima | Ari Kristyono)

SELEPAS  lulus dari Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang AU, Letnan Dua Penerbang Hadi Tjahjanto – kini Panglima TNI — mulai merasakan realita manis pahitnya menjadi prajurit TNI AU.

Banyak cerita manis, namun tak sedikit kisah pahit dijalani Hadi yang lulus AAU tahun 1986. Mulai dari nyaris diusir dari rumah dinas karena ayahnya yang bintara AU pensiun sedangkan mereka belum punya rumah, bahkan tugas pertama Hadi sebagai penerbang pun adalah sebagai awak penerbangan perintis, menerbangkan pesawat sipil ke tempat-tempat terpencil di Tanah Air.

Begitulah kisah yang ditulis dalam buku Anak Sersan Jadi Panglima, buku setebal 200 halaman yang mengisahkan biografi Marsekal Hadi Tjahjanto, sejak masa kanak-kanak hingga dilantik sebagai Panglima TNI, tanggal 8 Desember 2017 lalu.

Buku ini bertutur dengan polos, ditulis oleh wartawan senior Eddy Suprapto yang tidak lain adalah teman dekat Hadi semasa SMA di Lawang, Jawa Timur. Tak heran banyak hal bisa mengemuka dengan gamblang. Mulai dari kenakalan masa kecil, kisah cinta Hadi dengan gadis Nanik Istumawati yang kini menjadi istrinya, hingga kegigihan upaya masuk Akademi Angkatan Udara di tengah-tengah himpitan ekonomi yang lumayan mencekik leher.

Buku tersebut mengisahkan karir Hadi yang tidak terlalu mulus, saat dia masih berpangkat perwira pertama hingga perwira menengah. Dia pernah gagal duduk di kursi jabatan yang sudah di depan mata, bertahun-tahun tidak pernah bertugas di bagian operasi, “dibuang” ke skuadron penyemprot hama yang menampung pilot-pilot frustasi, hingga dipaksa bertukar jabatan di mana dia harus mengurus semua pekerjaan kecuali uangnya.

Bagi perwira TNI yang lebih junior dari Hadi, buku ini bisa menjadi semacam motivator, karena dengan jelas Hadi mengisahkan cara menjalani jalan terjal dan sulit itu tanpa harus merasa frustasi.

Begitu pun bagi remaja yang ingin meniru jejak para karbol, buku ini bisa menjadi panduan karena Hadi mengisahkan dengan cukup jelas bagaimana dia berlatih keras dengan bujet yang pas-pasan, namun ketika menempuh tes masuk Akademi Angkatan Udara, hanya tiga orang yang tersisa dari ratusan calon asal Jawa Timur, termasuk dirinya.

Tentu buku ini terasa tidak lengkap, karena baru memuat pemikiran-pemikiran Hadi sebagai Kepala Staf Angkatan Udara.

“Saya bersama satu tim kecil sedang menggagas buku lanjutan yang akan memaparkan lebih banyak Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI. Mulai dari mengapa Presiden Jokowi memilih dia, sampai ke kebijakan-kebijakan untuk menjadikan TNI mampu menjawab tantangan dan masalah pertahanan keamanan pada era sekarang,” ungkap Eddy Suprapto.

 

 

 

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge