0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Sidang Kasus e-KTP, Nazaruddin Mengaku Lupa

e-KTP (dok.timlo.net/nanin)

Timlo.net – Mantan bendahara umum partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dicecar pertanyaan soal dugaan uang yang mengalir ke Setya Novanto (Setnov) dalam kasus korupsi e-KTP.

“Jangan giliran orangnya di depan, saudara tidak mau, pura-pura lupa. Mestinya kalau memberi keterangan pikir-pikir dulu. Jangan diangkat-angkat tapi tahunya saudara tidak tahu. Hakim kan maunya yang objektif, kalau benar ya benar, kalau salah, bersalah. Jadi bagaimana, lupa?” kata anggota majelis hakim, Anwar di pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (19/2).

“Lupa yang mulia,” kata Nazaruddin.

Nazaruddin menjadi saksi untuk Setya Novanto yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan tipikor pengadan e-KTP yang merugikan keuangan negara senilai Rp 2,3 triliun.

“Ini salah satu contoh keterangan saudara yang saudara sebutkan terkait terdakwa. Sebelum terdakwa jadi terdakwa, saudara lancar saja memberikan keterangan, sekarang dia sudah jadi terdakwa, saudara malah lupa, bagaimana?” tanya hakim Anwar.

Nazaruddin pun masih diam dan tidak berkata apapun mengenai uang yang diduga mengalir ke Setnov.

“Di sini disebutkan Melchias Markus Mekeng menerima 1,4 juta dolar AS lalu Akom (Ade Komarudin) dapat 1 juta dolar AS di lantai 12, ruangan fraksi Golkar. Ini Andi (Agustinus) yang cerita atau bagaimana?” tanya hakim Anwar.

“Cerita Andi (Narogong) yang mulia,” jawab Nazaruddin.

“Andi cerita bagi-bagi uang? Kalau Andi kita tanya, di DPR bukan urusan dia, jadi benar dia ya?” tanya hakim Anwar.

“Iya,” jawab Nazaruddin.

“Bagaimana kalau saudara dikonfrontir dengan Andi nanti?” tanya hakim Anwar.

Nazaruddin pun tidak menjawab pertanyaan itu.

“Jadi kaitan saudara sebenarnya terlibat di e-KTP di mana?” tanya hakim Anwar.

“Saya sebagai bendahara fraksi, kebetulan Bu Mustoko Weni dan Ignatius Mulyono lapor ke mas Anas, minta anggaran untuk e-KTP, minta dukungan, saya hanya mendengarkan,” jawab Nazaruddin.

Mustoko Weni adalah ketua kelompok fraksi dari Partai Golkar di Komisi II sedangkan Ignatius Mulyono adalah anggota Komisi II dari fraksi Demokrat. Keduanya sudah meninggal.

“Bener tidak ada pembagian uang yang serinci saudara ini?” tanya hakim Anwar.

“Ada yang di catatan, ada yang diberikan langsung, di ruangan Mustoko Weni, saat itu dikasih ke Ganjar,” jawab Nazaruddin.

“Kemarin Ganjar mati-matian mengatakan tidak terima. Bagaimana saudara ini?” tanya hakim Anwar.

“Ada, saya lihat sendiri. Anas yang kasusnya sudah vonis pun dia bilang dia tidak kenal. Anas janji mau digantung di Monas, kasusnya sudah diputus saja dia tidak digantung-gantung di Monas,” jawab Nazaruddin.

“Anehnya saudara ini hanya dengar dari Mustoko Weni. Mustoko Weni sudah meninggal, Ignatius sudah meninggal? jadi sampaikan saja sejujurnya supaya tidak ada fitnah!” tegas hakim Anwar.

“Iya, sesuai penjelasan bu Mustoko Weni, saya dijelaskan, di ruang fraksi mas Anas,” jawab Nazaruddin.

Dalam perkara ini Setnov diduga menerima 7,3 juta dolar AS dan jam tangan Richard Mille senilai 135 ribu dolar AS dari proyek KTP-e. Setya Novanto menerima uang tersebut melalui mantan direktur PT Murakabi sekaligus keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun rekan Setnov dan juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura Made Oka Masagung.

Sedangkan jam tangan diterima Setnov dari pengusaha Andi Agustinus dan direktur PT Biomorf Lone Indonesia Johannes Marliem sebagai bagian dari kompensasi karena Setnov telah membantu memperlancar proses penganggaran.

Total kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp2,3 triliun.

Sumber: Antara

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge