0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Berburu Ikan Segar di Kampung Nila Nganjat

Petani sedang panen di kolam ikan air tawar di Desa Nganjat, Polanharjo, Klaten (dok.timlo.net/awijaya)

Klaten — Klaten dikenal memiliki julukan kabupaten 1.000 umbul atau mata air. Saking melimpahnya, salah satu perusahaan terkemuka memiliki pabrik Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Klaten selama satu dasawarsa. Potensi inilah yang dimanfaatkan masyarakat Desa Nganjat, Kecamatan Polanharjo, untuk dijadikan tempat sentra budidaya ikan air tawar.

“Sudah sejak tahun 1990- an warga memanfaatkan melimpahnya air untuk komoditas perikanan, utamanya budidaya nila merah. Namun saat itu masih dilakukan secara tradisional,” kata Kepala Desa (Kades) Nganjat, Pandu Sujatmoko, Kamis (15/2).

Berjalannya waktu seiring populernya keberadaan tempat makan dan pemancingan di kawan Desa Janti yang berbatasan dengan Kecamatan Tulung, lanjut Pandu, budidaya nila merah semakin menggeliat di Nganjat. Bahkan pada 2013, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo, mencanangkan Nganjat sebagai Desa Nila.

Pihaknya pun menindaklanjutinya dengan menerapkan empat manajemen budidaya nila merah secara profesional kepada masyarakat. Antara lain, manajemen kolam, pakan, induk dan sumber daya manusia (SDM).

“Nila merah itu jadi ikon Nganjat. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) juga pernah ke sini. Jadi sekarang itu sudah jadi mata pencaharian masyarakat, bukan sampingan lagi,” papar Pandu.

Dari pantauan, saat menginjakkan kaki di desa yang bertetangga dengan Desa Ponggok ini pasti bakal menemui pemandangan kolam-kolam ikan yang berada di tengah pemukiman maupun di bantaran sungai. Selain itu, pengunjung bisa langsung berburu ikan segar dari tangan petani. Sebab, tak jarang dijumpai petani ikan air tawar yang sedang melakukan panen.

 

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge