0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Alasan Pembangunan Taman Ki Narto Sabdho

Masyarakat bersantai di Taman Ki Narto Sabdho. (dok.timlo.net/ist)

Klaten — Bantaran Sungai Ujung yang mengalir di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten kini beralih fungsi menjadi sebuah taman untuk bersantai masyarakat. Istimewanya, taman berukuran mungil tersebut diberi nama Ki Narto Sabdho.

“Taman ini mengambil tema pendekatan budaya. Pasalnya, salah satu budayawan adiluhung dan pedhalangan kondang Ki Narto Sabdho itu tumpah darahnya (desa tempat lahir) ya di Pandes ini. Tepatnya di Dukuh Krangkungan,” ujar Kepala Desa (Kades) Pandes, Heru Purnama, Kamis (15/2).

Bagi penggemar wayang kulit tentu tidak asing mendengar nama Ki Narto Sabdho. Selain dikenal sebagai tokoh pembaharu dunia pedalangan pada tahun 80-an, Narto Sabdho menghasilkan sekitar 319 buah judul lagu atau gendhing melalui grup karawitannya bernama Condhong Raos.

“Mbah Narto (Ki Narto Sabdho) itu lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 silam. Meski cikal bakalnya di sini, namun besar dan dimakamkan di Semarang pada usia 60 tahun. Judul gendhing-gendhing terkenalnya itu seperti Caping Gunung, Gambang Suling, Aja Diplèroki, dan lain- lain,” beber Heru.

Mengingat karya-karyanya yang sudah terkenal di penjuru Nusantara, masyarakat Desa Pandes mempersembahkan sebuah taman dengan diberi nama Ki Narto Sabdho. Selain itu, pihaknya juga tengah menggencarkan kelompok karawitan untuk mengusung gendhing-gendhing Ki Narto Sabdho.

“Nanti di taman itu juga kita buatkan prasasti dan patung kepala berbahan perunggu wajah Ki Narto Sabdho. Kita juga mulai menggiatkan latihan karawitan gendhing Mbah Narto melalui dua kelompok karawitan di Pandes. Karena bagaimanapun tumpah darahnya ya di sini. Kenapa kita tidak coba nguri-uri (melestarikan) karyanya,” papar Kades Pandes ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge