0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Panggang Hydrofarm, Wisata Petik Sayur di Lereng Merapi

Panggang Hydrofarm di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang menawarkan wisata edukasi menanam ditengah sulitnya ketersediaan air (dok.timlo.net/awijaya)

Klaten — Desa Panggang, Kecamatan Kemalang mengembangkan Panggang Hydrofarm sebagai destinasi wisata edukasi sejak tahun lalu. Siapa sangka, daerah langganan kekeringan setiap musim kemarau di lereng Gunung Merapi ini justru menerapkan bercocok tanam dengan sistem hidroponik atau budidaya menanam tanpa menggunakan tanah.

“Panggang Hydrofarm ini wadah bersama dari ibu-ibu PKK, kelompok tani, hingga karang taruna, sekaligus kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk hidroponik yang dirintis sejak tahun lalu,” kata Sri Susilowati, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus istri Kepala Desa (Kades) Panggang, Nandang Nuryanto, Sabtu (27/1).

Menurut perempuan yang akrab disapa Susi ini, lokasi lahan Panggang Hydrofarm yang berdampingan dengan kebun bunga Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Kunti di Dukuh Ngemplak tersebut berada satu jalur dengan embung Panggang di Dukuh Sidosari. Keberadaannya diharapkan menjadi tujuan wisata edukasi yang dikelola oleh perwakilan dari lima rukun warga (RW).

“Kami sudah siapkan 15 unit instalasi untuk wisata edukasi. Setiap unitnya mempunyai panjang empat meter, bahannya terbuat dari pipa pralon yang telah diberi lubang-lubang untuk tempat benih tanaman. Sedangkan untuk media semai berbagai bji sayuran seperti pakchoi, selada, sawi, seledri, menggunakan media rockwoll,” ujar Penasihat Panggang Hydrofarm sekaligus Ketua Hidroponik Klaten.

Pihaknya menargetkan 80 persen dari total 450 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 16 rukun tetangga (RT) memiliki tanaman bersistem hidroponik pada akhir 2018. Pasalnya, cocok tanam hidroponik dianggap solusi menanam ditengah sulitnya ketersediaan air. Bahkan pemerintah Desa Panggang memberikan bibit tanaman agar ditanam di masing- masing rumah warga.

“Sistemnya itu pemakaian air lebih irit dan bisa terkontrol. Jadi, dibawah instalasi tanaman dikasih ember untuk penadah air agar tidak terbuang. Semoga bisa menambah daya tarik Desa Panggang karena lokasinya cocok untuk foto selfie. Sedangkan pengunjung cukup membayar Rp 5.000 untuk wisata petik kebun,” urai Susi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge