0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Misteri Sosok Putri Cempo

Makam Putri Cempo sebelum direlokasi (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo — Pemerintah Kota Solo mulai memindahkan makam Putri Cempo di Bantaran Kali Pepe, Jumat (26/1). Tapi siapakah sosok yang berada di dalam makam tersebut sehingga warga setempat menganggapnya keramat?

Rupanya tak ada yang tahu pasti. Kabid Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Solo, Mufti Raharjo mengaku hingga saat ini belum ada kajian historis yang cukup mendalam tentang siapa sosok yang dimakamkan di tepi Kali Pepe itu.

“Memang masih perlu pendalaman lagi,” kata dia.

Hal itu diperparah dengan banyaknya makam Putri Cempo. Di Solo saja ada dua makam yang menyandang nama Putri Cempo. Satu di Bantaran Kali Pepe yang akan segera dipindahkan Pemkot. Satu lagi berada di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Putri Cempo. Belum lagi makam Putri-putri Cempo lain di Lasem, Trowulan Mojokerto, dan Gresik.

“Menariknya semuanya sama-sama dimakamkan di bawah pohon rindang dan tak jauh dari sungai,” kata Mufti.

Mengingat banyaknya makam Putri Cempo yang tersebar di berbagai wilayah yang berjauhan, Mufti menyiimpulkan bahwa Putri Cempo merupakan gelar yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, Putri-putri Cempo itu dimakamkan di era yang berbeda.

“Seperti Brawijaya. Kan ada Brawijaya I, Brawijaya II, dan seterusnya sampai V. Mungkin ini seperti itu,” kata dia.

Dari sekian banyak orang yang menyandang gelar Putri Cempo, barangkali yang paling banyak dikenal adalah Istri Prabu Brawijaya V. Namanya tak bisa lepas dari perkembangan Islam di Jawa. Anaknya, Raden Fatah adalah tokoh penting yang mendirikan Kesultanan Islam Demak.

Namun agaknya, Putri Cempo yang dimakamkan di Tepi Kali Pepe bukanlah Putri Cempo Ibunda Raden Patah. Menurut Sugiyem, warga setempat yang sehari-hari merawat empat makam keramat itu, Putri Cempo yang dimakamkan di Bantaran Kali Pepe masih memiliki garis keturunan dari Keraton Surakarta dan Mangkunegaran.

“Suaminya dari Cina,” kata dia.

Versi Sugiyem didukung dengan lokasi makam yang berada di wilayah kekuasaan Mangkunegaran. Corak Mangkunegaran semakin kental dengan adanya cungkup berwarna kombinasi hijau dan kuning atau sering disebut warna Pare Anom. Warna tersebut merupakan warna khas Mangkunegaran hingga saat ini.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge