0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Cina Berhasil Klon Monyet Untuk Kali Pertama Dalam Sejarah

Zhong Zhong dan Hua Hua. ()

Timlo.net—Para peneliti Cina berhasil mengkloning dua monyet. Keduanya akan digunakan untuk penelitian mereka untuk penyakit yang mempengaruhi manusia. Mereka menggunakan metode revolusioner yang sama yang dipakai untuk mengkloning Dolly, si domba. Para peneliti dari the Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience bisa mengkloning kera ekor panjang identik Zhong Zhong dan Hua Hua di sebuah laboratorium di Cina. Keduanya berusia delapan dan enam minggu.

Mereka dinamai berdasarkan istilah Mandarin “Zhonghua” berarti bangsa Cina atau orang Cina. Menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell, para peneliti menggunakan reprogramming genetika untuk mengganti gen. Jika tidak embrio tidak akan berkembang, tulis Nextshark.

“Ada banyak pertanyaan tentang biologi primata yang bisa diteliti dengan memiliki model tambahan ini,” ujar peneliti Qiang Sun dilansir dari BBC.

Dia menyatakan jika klon baru ini bisa digunakan sebagai model untuk meneliti penyakit dengan dasar genetis seperti kanker, gangguan metabolisme dan daya tahan tubuh. Menurut para peneliti, para kera itu disusui dengan botol dan tumbuh secara normal. Mereka berencana mengkloning lebih banyak kera ekor panjang beberapa bulan ke depan.

Kesuksesan itu diraih tim itu setelah melakukan 79 kali percobaan dengan berbagai metode. Dua monyet lainnya gagal bertahan hidup setelah dikloning dari jenis sel berbeda. “Kami mencoba beberapa metode berbeda, tapi hanya satu yang bekerja. Ada banyak kegagalan sebelum kami menemukan cara yang sukses untuk mengkloning seekor monyet,” kata Dr. Sun.

Penggunaan kloning monyet di laboratorium Cina untuk uji coba medis menimbulkan pertanyaan terkait etika. Beberapa orang mengkuatirkan jika hal ini akan menimbulkan ide kloning manusia.

Akan tetapi, para peneliti menjelaskan jika mereka mengikuti panduan internasional yang ketat untuk penelitian binatang. Panduan itu dibuat oleh the U.S National Institutes of Health. “Kami sangat sadar jika penelitian di masa depan menggunakan primata non manusia di manapun di dunia bergantung pada para peneliti mengikuti standar etika yang sangat ketat,” kata Dr. Muming Poo, rekan peneliti Dr. Sun.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge