0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Komplotan Penipu Pengusaha Dibekuk

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net — Tim Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya meringkus kelompok penipu yang berpura-pura menjadi pejabat polisi. Para pelaku melancarkan aksinya dengan mengaku sebagai petinggi kepolisian di Polda Papua.

“Para pelaku mengaku kepada korban sebagai pejabat di Polda Papua, bukan Kapolda, tapi salah satu pejabat utama,” ujar Wadirkrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kamis (25/1).

“Pelaku menghubungi korban dan mengaku-ngaku sebagai pejabat di Papua, dan meminta bantuan berupa uang dengan mengaku pejabat dari Papua,” tambahnya.

Lima tersangka laki-laki itu adalah ND alias A (32) berperan sebagai pencari informasi dan rekening tabungan untuk menampung uang penipuan, AIS alias W (26) pimpinan komplotan serta berkomunikasi dengan korban baik secara SMS melalui Telepon.

Kemudian T (24) sebagai penyedia rekening serta mengambil uang hasil penipuan, HL (38) merupakan orang yang menjual rekening untuk menampung uang hasil kejahatan. Serta R (38) sebagai perantara penjual rekening.

“Sindikat ini mengaku baru lakukan aksinya, baru satu tahun. Kalau penipuan sudah 30 kali bilangnya,” ucap Ade.

Ade menjelaskan, awalnya para pelaku mencari profil dan nomor mangsanya melalui internet. Dari situ, dipersiapkan nama pejabat yang tepat untuk dicatut.

“Caranya dengan men-screening dan mencari tau profiling korban dengan googling di internet, dicari perusahaannya lalu mereka kaitkan dengan pejabat di daerah itu,” kata dia.

Pelaku pun mengirim pesan singkat kepada salah satu pengusaha di Papua berinisial DMP berisi perkenalan identitas dan tersangka menelepon korban untuk menanyakan kabar, hingga akhirnya meminta uang dengan alasan meminta bantuan.

“Awalnya tanya ke korban ‘Gimana bang sehat?’. Selanjutnya ‘Lagi membutuhkan bantuan abang, ada yang harus ditutupi besok diganti dan kemudian pelaku mengatakan berapa saja bang’,” papar Ade.

DMP pun yakin dan setuju membantu, lantas dirinya mentransfer uang 100 juta rupiah yang dikirim ke nomor rekening tersangka. Namun korban hanya mengirim 70 juta setelah sadar ditipu dan mengonfirmasi ke pihak terkait.

“Kantor (Polda Papua) yang disebut pelaku, mengatakan bahwa tidak pernah menghubungi korban untuk meminta uang. Setelah konfirmasi ke berbagai pihak, dan ke pejabat itu, korban langsung memblokir 30 juta, sehingga korban rugi 70 juta,” tambah Ade.

Peristiwa ini pun dilaporkan korban ke polisi dan akhirnya para pelaku berhasil diringkus di daerah Bekasi dan Jakarta Timur pada 11 dan 12 Januari 2018. Sejumlah barang bukti yang diamankan polisi ialah uang sebesar 56 juta rupiah.

Petugas juga mengamankan beberapa kartu ATM Bank Mandiri Gold, Danamon Syariah dam BNI Gold. Dari kasus ini, para pelaku dijerat pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama empat tahun penjara.

[bal]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge