0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Demi KLA, Solo Berkomitmen Habisi Iklan Rokok

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Pemerintah Kota berkomitmen menghapus total iklan rokok di wilayah Solo. Hal ini dilakukan demi mencapai predikat Kota Layak Anak (KLA) yang ingin dicapai Kota Solo tahun 2018 ini. Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan penghapusan iklan rokok tidak akan banyak berpengaruh kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“(Pendapatan Solo) dari rokok tidak banyak kok. Paling berapa,” kata Rudy –sapaan akrab Walikota Solo, saat ditemui di Balaikota Solo, Kamis (25/1).

Saat ini, Kota Solo termasuk salah satu kota paling ramah anak di Indonesia. Solo meraih predikat Kota Layak Anak kategori Utama. Satu tingkat di bawah Kota Layak Anak yang menjadi impian Pemkot Solo. Selain Solo, hanya Surabaya yang sudah mencapai kategori Utama. Salah satu faktor yang menghambat Solo meraih predikat Kota Layak Anak adalah masih adanya iklan rokok yang bersliweran di tempat-tempat umum.

“Kita optimis tidak ada masalah kalau iklan rokok dihapuskan,” kata Rudy.

Merujuk data Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Solo tahun 2017, pajak reklame, hanya menyumbangkan Rp 8,5 miliar. Kurang dari 4 persen dari total PAD Solo yang mencapai Rp 265,635 miliar. Itu pun termasuk reklame di luar produk rokok. Rudy optimis pendapatan Kota Solo masih bisa disokong dari sumber-sumber lain.

“Kan tidak hanya rokok. Ada sumber-sumber lain,” kata Rudy.

Di lain pihak, Rudy yakin industri penghapusan iklan rokok di Kota Solo tak akan menimbulkan gejolak terhadap pasar rokok di Solo. Ia yakin penjualan rokok di Solo tetap tinggi walaupun tanpa iklan di tempat-tempat umum.

“Ada iklan atau tidak, orang tetap beli rokok. Saya yakin. Nggak ada ceritanya produksi rokok menurun,” kata dia.

Kendati demikian, Rudy juga mengkritik pemerintah pusat yang terus menaikkan cukai tembakau. Hal itu dinilai membuat tekanan yang berat terhadap industri rokok tanah air.

“Seharusnya pemerintah konsekuen. Kalau tidak boleh pasang iklan ya jangan dinaikkan cukainya. Ini sudah tidak boleh iklan, cukainya masih dinaikkan. Kasihan,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPPKAD Solo Yosca Herman Sudrajad mengatakan penghapusan iklan rokok di Solo akan dilakukan bertahap. Sebagai langkah awal, iklan rokok akan dibatasi di pinggiran kota.

“Iklan rokok jangan dihabisi. Tapi akan kami tempatkan di lokasi pinggir kota atau pintu masuk kota seperti Jurug. Penempatan iklan rokok ke pinggir kota juga harus dengan tahapan. Tidak bisa langsung dipinggirkan,” kata Yosca.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge