0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Polri Mendata Warga yang Menderita Gizi Buruk di Papua

Irjen Boy Rafli Amar (merdeka.com)

Timlo.net – Polri melakukan pendataan terhadap warga yang mengalami gizi buruk di Papua. Data yang didapat, belasan ribu warga setempat mengalami gizi buruk dan penyakit campak.

“Yang mengalami gizi buruk, kalau kemarin ya cukup tinggi ya, kurang lebih di antara 10.000 sampai 15.000 orang. Jadi pelayanan-pelayanan kesehatan kita, termasuk juga pemberian vaksin. Jadi sudah banyak vaksin diberikan termasuk distribusi makanan,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli di Jakarta Selatan, Rabu (24/1).

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini menjelaskan, gizi buruk yang dialami warga Asmat, Papua, utamanya karena faktor ekonomi. Mereka tidak terjangkau Pemerintah karena kendala akses jalan.

“Persoalan gizi buruk ini kami lihat lebih kepada pertama adalah lokasi masyarakat yang cukup jauh sehingga dari aspek perekonomian untuk menjangkau daerah-daerah yang bisa didistribusi oleh pemerintah secara menyeluruh ini terkendala,” ujarnya.

Selain itu, warga juga kesulitan akses menuju Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan juga mahalnya biaya transportasi di sana (Asmat). Jarak yang jauh juga menjadi faktor sulitnya pemerintah daerah bisa sampai ke perkampungan warga Asmat.

“Persoalannya mereka jauh dari Puskesmas dan sulit mendapatkan sarana transportasi, andaikan ada sarana transportasi biaya untuk BBM-nya bagi mereka cukup mahal. Jadi ada daerah-daerah yang oleh pemerintah daerah tidak terjangkau dan masyarakat sendiri tidak dapat serta merta ketika butuh platinum kesehatan datang ke Puskesmas dikarenakan faktor transportasi itu,” paparnya.

Kondisi saat ini, warga Asmat masih sangat membutuhkan tenaga medis, dokter dan tenaga Puskesmas. Kapolda sudah meminta Bantuan Kendali Operasi (BKO) kepada Pusdokkes Mabes Polri, agar bisa mengisi kekurangan yang ada di Asmat.

“Jadi beberapa puskesmas tidak ada dokter yang ada di paramedis, Tetapi kalau di RSUD yang ada di Agats itu cukup, baik spesialis maupun dokter umum dan paramedis lainnya cukup,” ucapnya.

[noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge