0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Meski Miliki Prospek Cerah, Petani Ciplukan Masih Alam Kendala

Tanaman ciplukan, budidaya yang sangat menggiurkan (dok.timlo.net/tarmuji)
Wonogiri — Budidaya tanaman ciplukan di Wonogiri ternyata sudah ada satu tahun lalu. Agrobisnis ini digawangi Andi Setiawan (40), warga Dusun Tambakan, Desa Karang Lor, Kecamatan Manyaran yang pernah merasakan hidup di Negeri Sakura selama tiga tahun. Meski memiliki pangsa pasar yang menarik, akan tetapi ada sejumlah kendala yang dialami pembudidaya di Wonogiri.
“Sudah beberapa kali panen, Mas, dan hasilnya lumayan itu pun sebenarnya panenannya belum maksimal,” ungkap bapak beranak dua ini, Rabu (24/1).
Menurut dia, tanaman ciplukan yang memiliki nama ilmiahnya Physalis Peruvania ini sangat mudah berkembang, berbunga dan berbuah. Namun justru saat akan berbuah dan beberapa kali petik tanaman ini dengan sendirinya layu dan menguning. Ia mengatakan, jika kondisi normal buah ciplukan selongsongnya berwarna kuning keemasan.
“Untuk bibit dari Thailand itu dengan biaya sendiri. Saat ini di lahan saya populasi tanaman sebanyak 4800 batang di lahan 500 meterpersegi. Dengan asumsi biaya tanam sampai panen Rp 25 ribu perbatangnya,” katanya.
Awalnya, ide budidaya ciplukan ini, beber Andi, berawal dari kerjasama yang ditawarkan oleh mantan atasannya sewaktu bekerja di Jepang. Dimana,atasannya melirik usaha agrobisnis. Semula, buah ciplukan itu didatangkan dari Thailand, lantaran tidak mampu mencukupi kebutuhan,akhirnya kerjasama itu pun putus. Di Jepang, ciplukan merupakan sebagai buah segar, yang konon kaya vitamin.
“Soalnya pengiriman dari Thailand itu tidak bisa  berkelanjutan,kadang ada tiga bulan kemudian bulan berikutnya tidak ada lagi.Maka,bos saya itu menawarkan agrobisnis ini untuk dicoba di Indonesia,” bebernya.
Lebih lanjut Andi mengatakan, budidaya ciplukan di Indonesia merupakan tahap uji coba, jika panenan kondisi normal makan akan tercipta jalinan kerjasama yang berkelanjutan. Saat ini, pasokan ciplukan dari Indonesia baru sebatas dari kalangan mitranya, itu pun belum dapat dikatakan panen sempurna.
“Saya di sini juga sebagai pengepul, masih diberi kesempatan lagi oleh pengusaha Jepang tiga periode panen, kalau gagal terus saya kasihan sama petaninya, Mas,” tuturnya.
Selain dirinya, imbuh Andi, ada satu rekannya di Jember, Jawa Timur yang juga berkecimpung pada budidaya ciplukan. Namun lantaran terkendala permodalan,akhirnya usaha itu macet total. Ia juga mengatakan, sejak menangkap peluang itu, kemudian mengajak beberapa rekannya untuk turut serta menyuplai buah ciplukan ke Jepang tersebut.
Bicara akan kebutuhan bauh ciplukan ,imbuh Andi saat ini sangatlah terbuka. Namun demikian, kalangan petani ciplukan binaannya mengalami kendala pada tanamannya yakni layu saat penuaan buah. Bahkan,belum lama ini dosen UGM Yogyakarta datang ke Manyaran untuk melakukan penelitian berkaitan dengan kendala yang dialaminya.Akan teteapi,para akademisi itu menyebut jika hal itu bukan penyakit. Pihak UGM membawa sampel tanaman untuk diuji klinis, dan saat ini dirinya masih menunggu hasil dari laboratorium.
“Kendala itu juga dialami rekan kita yang ada di Karanganyar dan Purwokerto dimana mereka ini juga masuk di jaringan kita, tapi untuk Karanganyar ini sudah habis, pekan lalu sudah panen,” tandasnya.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge