0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Wow, Tanaman Liar ini Ternyata Miliki Nilai Jual Tinggi

Tanaman ciplukan, budidaya yang sangat menggiurkan (dok.timlo.net/tarmuji)
Wonogiri — Banyak tak menyangka jika yang dahulunya tanaman liar yang biasa hidup di sekitar kita, ternyata memilik nilai jual yang sangat fantastis. Ya, buah ciplukan (physalis peruviana) kini sejumlah kalangan pegiat agrobisnis di Wonogiri mulai menekuni. Meski sampai saat ini masih ada sejumlah kendala, dimana hasil panenan mereka belum dapat maksimal.
“Kalau jenisnya ini ciplukan jumbo, yang benihnya didatangkan dari Thailand, Mas,” ujar Yatno Edy, pembudidaya ciplukan asal Desa Gunungsari Kecamatan Jatisrono kepada Timlo.net, Rabu(24/1).
Menurut dia, saat ini dirinya menanam baru kali pertamanya di lahan seluas satu hektar miliknya. Kini tanamannya  sudah berusia sekitar dua minggu sudah disemai dilahan yang sudah disiapkan. Ada sekitar 1000 batang ia tanam dengan asumsi biaya sekitar Rp 25 juta.
Padahal, kata Edy, jika hidup dengan kondisi normal,maka tanaman ciplukan itu mengahasilkan buah sekitar dua kilogram per batangnya,sehingga secara kasar petani masih sangat diuntungkan. Setiap 12 buah ciplukan bobotnya mencapai satu kilo lebih.
“Kalau sudah panen kita jual ke pengepulnya, dengan harga Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu,” paparnya.
Menurut dia, budidaya ciplukan tersebut merupakan tahap ujicoba sehingga membutuhkan ketekunan dan juga modal besar. Sementara,soal pangsa pasar ia menyebut sangat menjanjikan. Menurut dia, buah tersebut diekspor ke Negeri Matahari Terbit alias Jepang. Konon buah ciplukan sendiri ketika kondisi tua, maka buah itu akan tahan hingga empat bulan tanpa ada penyusutan berat atau pun kadar airnya.
“Untuk penyiapan lahan dan perawatan kita juga melibatkan tenaga kerja, makanya saya belum berani tanam banyak,” ujarnya.
Selain dirinya,imbuh Edy, ada sejumlah pembudidaya yang tersebar di Wonogiri, seperti di Kecamatan Jatisrono, Pracimantoro dan Manyaran. Namun demikian, ada sejumlah kendala yang dialami kalangan pembudidaya ciplukan, bahkan hingga kini belum ditemukan penyebabnya.
“Katanya rekan-rekan yang sudah panen, ketika buah dipetik dua kali dengan sendirinya tanaman itu menjadi layu dan mati, sehingga kualitas buahnya menjadi jelek,dan tidak diterima oleh pengepul,” tandasnya.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge