0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Pengusaha Bus Wonogiri Terancam Gulung Tikar

Bus AKAP di Terminal Wonogiri (dok.timlo.net/tarmuji)
Wonogiri — Kalangan pengusaha bus AKAP asal luar daerah dinilai berniat mematikan keberadaan pengusaha lokal. Hal demikian menjadi keprihatinan organisasi angkutan darat( Organda) Wonogiri. Organda pun tak ingin terjadi kisah tragis Pantura 2.
“Memang bus-bus dari luar Wonogiri itu banting-bantingan harga tiket, nginjek-nginjek dan sebenarnya pada prinsipnya mereka ini sengaja ingin mematikan pengusaha lokal,” ujar Ketua Organda Wonogiri, Edy Purwanto saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Selasa (23/1).
Dijelaskan, keberadaan bus AKAP luar tersebut sudah beroperasi di Wonogiri hampir tiga tahun lalu. Dia pun tak ingin nasib pengusaha lokal mengalami nasib tragis, seperti pengusaha otobus di Pantura yang  gulung tikar lantaran adanya persaingan harga yang dilakukan PO luar daerah.
“Saya tidak ingin pengusaha lokal Wonogiri mengalami nasib tragis seperti apa yang dialami pengusah bus di Pantura, gara-garanya itu diinjak- injak pengusaha luar, akhirnya si kuat memonopoli pasaran. Ya, jujur saja kalangan pengusaha lokal saat ini kondisinya sangat memprihatinkan,” kata dia.
Dengan hasil rapat koordinasi pekan lalu, beber Edy Purwanto, pihaknya kemudian memberanikan diri merangkul pengusaha PO luar daerah masuk ke dalam paguyuban. Hal demikian dengan harapan,dapat terbangun sinergitas antar PO, khususnya dalam hal harga tiket.
“Organda sudah berupaya sowan ke kementrian, Dishub Propinsi dan Pak Bupati. Intinya kita ingin adanya regulasi yang berpihak pada pengusaha lokal,” bebernya.
Padahal kata Ketua Organda Wonogiri,dari sisi  pelimpahan trayek itu belum diketahui asal usulnya, sementara Wonogiri  untuk trayek sudah tutup karena overload. Di sisi lain, pengusaha lokal memiliki ijin trayek seratusan, tapi justru saat ini PO gajah (luar) mencaplok hampir seratusan sendiri kemudian PO lokal hanya 30-an saja.
“Ada tiga PO luar Wonogiri yang menurunkan harga. Tapi mereka sudah kita tegur, tolong pakai hati. Selain itu,kita juga peringatkan karena keberadaan mereka ini banyak salah. Ya mbok dihargai kitalah, yang sudah ada di Wonogiri sejak dulu,bahkan dimana bus-bus asal Wonogiri punya nama merajai pulau Jawa,” sebutnya.
Lebih lanjut pemilik PO Sumba Putra Tirtomoyo ini mengatakan, soal tarif bus AKAP non ekonomi tidak ada regulasinya,namun selebihnya diserahkan pada pasar. Akan tetapi, dirinya meminta agar pengusaha tidak semena-mena memberlakukan tarif .
Dia juga menambahkan,seharusnya PO dari luar itu sesuai aturan dilarang masuk atau mengambil penumpang di terminal kelas C. Akan tetapi kenyataannya, hal itu dilanggar. Pihaknya pun berharap banyak agar Pemkab turun tangan menyikapi persoalan ini.
“Karena kami (Organda) tidak punya taring. Yang punya power itu Pemkab. Makanya kami berharap nantinya pemerintah campur tangan dalam penertiban soal trayek bus AKAP luar daerah ini agar pengusaha lokal tidak gulung tikar, karena apa kita sedikit banyak ikut berkontribusi,” tandasnya.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge