0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

UNSA Jadi Tempat Uji Kompetensi Calon Auditor Forensik

Rektor UNSA Prof Setiono dan Kepala LSP AF Ubaedi seusai penandatangan kerjasama (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Universitas Surakarta (UNSA) dan Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Forensik (LSP AF) menandatangani kerjasama dimana UNSA sebagai penyelenggara diklat sekaligus tempat uji kompetensi bagi calon auditor forensik di wilayah Jawa Tengah. Penandatangan dilakukan oleh Rektor UNSA Prof Dr Setiono SH MH dan Kepala LSP AF Ubaedi, di Kampus UNSA, Solo, Selasa (23/1).

“LSP AF yang berwenang memberikan sertifikat kompetensi untuk profesi auditor forensik tidak diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan dan latihan. Karena itulah LSP AF menggandeng sejumlah perguruan tinggi dan lembaga lain untuk menjadi penyelenggara diklat,” ungkap Ubaedi kepada wartawan, usai penandatanganan.

Kerjasama ini, menurut Ubaedi, diharap dapat memperluas kesempatan untuk menekuni bidang audit forensik dan menghasilkan auditor muda yang semakin banyak. LSP AF bekerjasama dengan berbagai institusi  untuk melatih para mahasiswa yang ingin mempelajari dan meraih sertifikasi sebagai auditor forensik.

Ubaedi mengemukakan, untuk memperoleh sertifikat kompetensi dan gelar profesi CFrA, lulusan S1 dan D4 semua disiplin ilmu bisa mengikuti diklat yang diselenggarakan rekan LSP AF. Setelah mengikuti diklat selama tujuh   hari, peserta bisa mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan. Unsa merupakan satu-satunya perguruan tinggi  di Jawa Tengah yang telah bekerja sama dengan LSP AF.

“Selain UNSA, LSP AF berencana menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) untuk menyelenggarakan diklat dan menjadi tempat uji kompetensi profesi akuntan forensik,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Rektor UNSA Prof Setiono mengemukakan, potensi praktik kecurangan dan korupsi semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah dan ragam transaksi keuangan. Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan praktik kecurangan dan korupsi, diperlukan peran auditor yang memiliki keahlian forensik. Permasalahan ini perlu penanganan serius, tidak hanya oleh pemerintah, namun juga melibatkan peran berbagai lembaga termasuk pendidikan tinggi dan masyarakat luas.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge