0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

IPW Pertanyakan Kasus Penembakan Kader Gerindra

TKP penembakan kader Gerindra (merdeka.com)

Timlo.net – Indonesia Police Watch (IPW) pertanyakan penggunaan senjata api oleh anggota Brimob pada kasus tewasnya kader Partai Gerindra, Fernando Wowor. IPW menilai, sesuai standar operasional prosedur (SOP) anggota polisi di setiap kesatuan harus menanggalkan atributnya termasuk senjata saat tak bertugas.

“Sesuai SOP selesai bertugas Brimob mengembalikan senjatanya ke unit kerjanya,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, Selasa (23/1).

Neta mengatakan, penggunaan jenis senjata api digunakan Briptu AR pun harus ditelusuri. Sebab, dari informasi didapatnya, saat kejadian itu pelaku bukan menggunakan senjata sesuai pangkatnya.

“Sebab beberapa saksi mata sempat menyebutkan, senjata yang digunakan pelaku adalah tipe Glock 17,” ujar Neta.

Neta berpendapat, personel Brimob pada umumnya menggunakan dua jenis senjata api yakni tipe Glock 17 atau HS 9. Menurut dia, tipe Glock 17 adalah senjata organik Densus 88 dan para perwira di Brimob. Sedangkan HS 9 merupakan senjata organik Brimob lapisan bawah, terutama yang berpangkat brigadir.

Selain itu, kata Neta, penggunaan senjata api di tengah posisi pelaku yang tengah tak bertugas patut dipertanyakan. Menurutnya, Propam Polri harus memeriksa atasan Briptu AR lantaran dinilai lengah memberi pengawasan terhadap anak buahnya.

“Propam perlu memeriksa atasan pelaku, kenapa membiarkan yang bersangkutan bebas membawa bawa senjata api di tengah malam, meski tidak sedang bertugas,” kata Neta.

Dia menambahkan, motor digunakan pelaku saat kejadian patut ditelusuri. Neta menyebut saat kejadian Briptu AR menggunakan motor gede merek BMW bernomor polisi B 4559 BKD.

Terakhir, lanjut Neta, pemeriksaan juga perlu dilakukan terhadap rekan wanita pelaku. Hal ini guna menelusuri kronologi penembakan tersebut.

“Jika jajaran kepolisian tidak serius menangani kasus ini dikhawatirkan aksi koboi koboian jajaran bawah Polri akan terus berulang,” kata Neta.

Seperti diketahui, insiden penembakan itu terjadi pada Sabtu (20/1) dini hari. Dugaan sementara antara pelaku dan korban terlibat cekcok akibat parkir kendaraan.

Korban yang datang bersama tiga rekannya kemudian berusaha merebut senjata api dari Briptu AR saat keributan berlangsung. Namun dalam perebutan senjata itu, Fernando Wowor, tewas tertembak.

Sementara itu, Briptu AR menderita luka parah setelah dikeroyok rekan korban. Pelaku saat ini masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta.

[gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge