0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Vendor Proyek e-KTP Beberkan Peran Setnov

Sidang Setnov (merdeka.com)

Timlo.net – Lima saksi dihadirkan dalam sidang kasus korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto (Setnov) di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Jaksa penuntut umum (JPU) melakukan pembuktian adanya kongkalikong yang dilakukan Setya Novanto terkait proyek tersebut.

Salah satunya mengungkap adanya pertemuan oleh Setya Novanto dengan vendor proyek e-KTP, Hewlett Packard (HP), Charles Sutanto Ekapraja. Di hadapan majelis hakim, Charles mengaku pernah ditawari oleh Johannes Marliem, vendor penyedia AFIS pada proyek e-KTP, untuk ikut serta dalam proyek itu.

Penawaran tersebut tidak langsung diamini Charles dengan alasan ingin melakukan penelusuran lebih dalam. Made Oka Masagung, menjadi salah satu informannya mengenai kejelasan proyek e-KTP.

“Saya tanya ke beberapa orang tidak jelas informasinya terus saya telepon ya bisa dikatakan teman saya Pak Made Oka Masagung. Saya tanya ke beliau ada tidak yang tahu proyek ini, kalau boleh saya dikenalin sama yang tahu informasinya,” ujar Charles menceritakan awal mula perkenalannya dengan Setya Novanto melalui Made Oka, Senin (22/1).

Selang satu bulan kemudian dari komunikasinya dengan Oka, Charles mengaku kembali dihubungi lagi dengan rekan Setya Novanto tersebut. Saat itu, ujar Charles, dia diminta Oka untuk ikut ke rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran, Jakarta Selatan.

“Tiga minggu kemudian atau sebulan kemudian saya ditelepon ‘you ke tempat saya sekarang’. Saya datang ke kantornya (kantor Made Oka) pakai mobil dia, diajak ke rumahnya Pak Novanto,” ujarnya.

Setibanya di rumah mantan Ketua DPR itu, dia mengaku ditanya latar belakang pekerjaan dan keahliannya oleh Setya Novanto. Setelah menjelaskan apa yang diminta, diakui Charles, baik Made Oka dan Setya Novanto menepi ke ruangan lain dan berbincang-bincang tanpa dia dengar.

Usai pertemuan, Charles pun menanyakan pengaruh Setya Novanto dari proyek yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu.

“Saya tanya perannya (Setya Novanto) apa. Ya dia (Made Oka) bilang udah ikutin aja prosesnya,” ujar Charles menirukan arahan Made Oka.

Lebih lanjut, tidak hanya sekali pertemuan dengan Setya Novanto, Charles mengatakan ada dua pertemuan lainnya dengan mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

“Pertemuan kedua saya diajak (Made Oka) ke gedung DPR. Saya enggak tahu (tujuan Oka) saya cuma diajak beliau saja,” ujarnya.

Pertemuan selanjutnya, Charles menuturkan pada malam hari dia mendapat telepon agar hadir ke kediaman Setya Novanto. Setibanya di sana, dia melihat Paulus Tannos, Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra sekaligus peserta konsorsium PNRI pada proyek e-KTP.

Jika pada pertemuan pertamanya dengan Setya Novanto ia ditanya latar belakang pekerjaan, kali ini harga produksi kartu per lembarnya menjadi pertanyaan pada pertemuan tersebut.

“Saya jawab cost kartu itu berdasarkan pengalaman di Amerika, sekitar USD 2,5 sampai 3 per ID. Saya juga ditanya apakah bisa gunakan chip dari negara lain, terus terang HP tidak pernah gunakan chip yang jangka waktu 1 tahun jadi saya enggak bisa jawab,” ujarnya.

Dari paparan tersebut, Charles mengklaim tidak ada tindak lanjut meski HP ikut serta dalam proyek tersebut. Ia berdalih keikutsertaan HP pada proyek e-KTP merupakan divisi printer, server, dan PC. Sedangkan divisi software yang dia komandoi tidak ikut lelang proyek e-KTP dengan alasan tidak ada kecocokan harga.

“HP itu ada 4 country manager enterprises, ada saya (software), server, PC, dan printer. Tapi (ikut serta proyek e-KTP) bukan dari saya,” tukasnya.

[eko]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge