0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Liku-liku Sejarah Pembangunan Gedung Promoter

Gedung Promoter (merdeka.com)

Timlo.net – Gedung Promoter, bangunan milik Polri setinggi 23 lantai, diresmikan Jumat (19/1). Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut gedung ini tidak kalah dengan Scotland Yard, kantor kepolisian metropolitan London, Inggris.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian meresmikan Gedung Promoter di Polda Metro Jaya. Tito lantas membandingkan gedung 23 lantai itu dengan Scotland Yard, kantor kepolisian metropolitan London, Inggris.

“Gedung ini salah satu modernisasi, tidak kalah dengan kepolisian Singapura, Scotland Yard, London,” kata Tito dalam sambutannya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/1).

Menurut mantan Kapolda Metro Jaya ini, ada beberapa hal yang menjadi perbandingannya. Di antaranya adalah soal penampakan depan gedung penuh dengan taman dan bersih.

“Saya lihat di London masih agak kumuh. Ini semua bisa melihat, di dalam marmer semua, rapih. Pembangunan gedung ini tidak lepas dari perubahan-perubahan dan ruang fiskal yang ada saat ini,” katanya.

Seperti diketahui, gedung ini sudah lama sekali terbengkalai. Mulai peletakan batu pertama pada tahun 2004 dengan rencana pembangunan 23 lantai dan semula digunakan untuk Densus 88. Saat itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani menganggarkan biaya Rp 660,1 miliar untuk pembangunan gedung di atas lahan seluas 14.500 meter persegi.

Sayangnya, hingga pembangunan dilaksanakan, biaya yang digunakan belum tercatat dalam APBN. Sontak, seluruh media massa menjadikan pembangunan gedung tersebut sebagai topik pemberitaan hingga di penghujung 2004.

Tetapi Firman Gani tetap melaksanakan pembangunan, dengan alasan sambil menunggu anggaran dari APBN. Pernyataan itu menuai kritik pedas berbagai pihak. Firman Gani semakin tersudut dengan pertanyaan wartawan, terkait penolakan mendadak Kapolri Jenderal Dai Bachtiar untuk hadir saat menggelar syukuran peletakan batu pertama.

Pergantian Kapolri dari Jenderal Dai Bachtiar kepada Jenderal Sutanto tidak memberikan dampak terhadap kelanjutan pembangunan. Justru, proses pembangunan yang direncanakan selesai selama 18 bulan, semakin tidak jelas. Akhirnya, selama Jenderal Sutanto menduduki posisi nomor satu di Polri, pembangunan tak lagi berjalan dan akhirnya mangkrak hingga 14 tahun lamanya.

Hingga akhirnya, memasuki awal 2018 atau setelah 14 tahun pembangunan dimulai, Polri memutuskan pembangunan gedung itu diselesaikan dengan nama Gedung Promoter.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge