0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kasus Bos REI Solo, Agen Marketing Properti Ketar-Ketir Dikriminalisasi

Terdakwa kasus penipuan warga negara Korea, Antonius Hendro Prasetyo usai menjalani sidang yang menjeratnya (timlo.net/achmad khalik)

Solo – Kasus penipuan yang menjerat Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kota Solo, Antonius Hendro Prasetyo dikhawatirkan banyak pihak khususnya kalangan agen marketing properti. Pasalnya, tugas seorang agen marketing rawan terkena kriminalisasi oleh pihak-pihak tertentu yang merasa tidak puas atau merasa dirugikan.

“Jika pekerjaan seorang agen penjualan atau marketing properti, nantinya ada permasalahan terkait pembangunan maupun perijinan properti tersebut dapat diancam atau dipidanakan, tentunya ada puluhan, hingga ratusan ribu marketing properti yang tersebar di Indonesia terancam kriminalisasi,” tandas Penasehat Hukum, Michael Deo Kristianto dalam sidang kasus penipuan yang menyeret Bos Real Estate Solo, Antonius Hendro Prasetyo di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo, Kamis (18/1) siang.

Dalam sidang dengan agenda pembelaan penasehat hukum dan terdakwa ini, Michael juga mengatakan, sudah sewajarnya jika agen marketing mempertemukan pengembang dan pembeli apartemen yang berada di Kawasan Ngaglik, Sleman, DIY untuk melakukan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Setelah itu, tugas dari agen marketing selesai dan tanggung jawab dibebankan kepada para pihak yang menandatangani isi dari PPJB tersebut.

“Tugas agen marketing mencari pembeli atau buyer untuk dipertemukan dengan pengembang. Setelah itu, tugas masing-masing dari vendor (pengembang-red) dan pembeli itulah yang terikat dalam PPJB yang telah disepakati. Agen sudah tidak memiliki keterikatan di wilayah tersebut,” jelas Pengacara asal Kota Semarang tersebut.

Tak hanya itu, Michael juga menyoroti perihal tugas seorang agen marketing dan pengembang apartemen adalah sebagai mitra. Seorang agen marketing, bertugas berdasarkan SOP yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak. Artinya, kedudukan mereka sama tinggi dan tidak ada salah satu pihak yang merasa lebih rendah. Dalam kasus tersebut, kliennya bertugas untuk memasarkan apartemen M-Icon yang dimiliki oleh Wisnu Tri Anggoro. Meski memasarkan, bukan berarti kliennya terlibat dalam kasus penipuan tersebut.

“Semua telah diatur dalam SOP masing-masing pihak terkait tugas dan tanggung jawab masing-masing. Meski memasarkan, tugas agen marketing ini selesai setelah dilakukannya PPJB antara pengembang dan buyer,” jelasnya.

Diakhir sidang, Michael memohon kepada majelis hakin agar kliennya dibebaskan dari dakwaan JPU sekaligus merehabilitasi dan mengembalikan martabat Antonius Hendro Prasetyo.

Usai dilakukan sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erna enggan menanggapi duplik yang dibacakan oleh penasehat hukum terdakwa tersebut.

“Langsung ke Kasipidum Kejari saja,” katanya singkat saat ditanya wartawan.

Kasus ini bermula saat seorang warga Korea, Yun Tae Kim atau biasa dikenal dengan Mr Kim tertarik membeli apartemen yang ditawarkan oleh PT Graha Anggara Jaya (M-icon) dalam sebuah pameran real estate di Solo Paragon Mall pada 2015 silam. Waktu itu, Mr Kim tertarik apartemen yang berada di Kawasan Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

Akan tetapi, harga yang ditawarkan cukup tinggi yakni mencapai Rp 600-an Juta. Kim mencari cara untuk mendapatkan harga termurah, hingga akhirnya mendatangi Antonius Hendro Prasetyo selaku Direktur Utama PT Ataya agen properti yang memasarkan apartemen M-Icon. Saat itulah, Mr Kim meminta untuk dibantu mendapatkan harga murah senilai Rp 481 juta.

Setelah mendapatkan harga tersebut, Kim mengajak lima rekannya untuk ikut membeli apartemen M-Icon di Yogjakarta dengan harga yang telah disepakati tersebut. Meski telah menyetorkan sejumlah uang, apartemen M-Icon yang telah dipasarkan itu tidak segera terealisasi. Sehingga, mencuatlah kasus ini.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge