0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ratusan Warga Asmat Menderita Campak dan Gizi Buruk

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net – Sedikitnya 471 anak di Kabupaten Asmat, Papua, menderita wabah penyakit campak dan gizi buruk. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat menyebutkan, 59 balita meninggal dunia.

“Dari informasi atau data dari Dinkes Kabupaten Asmat yang terbaru yang kami terima pada Senin (16/1), sebanyak 59 balita meninggal karena campak, terhitung sejak September 2017 hingga 15 Januari 2018,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giyai, Senin (15/1).

Dinkes Papua menyarankan Dinkes Asmat agar melakukan imunisasi untuk merespons kejadian luar biasa (KLB) serta pemberian makanan tambahan dan juga vitamin A untuk mengatasi wabah tersebut.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Papua dr Aaron Rumainum melanjutkan, pemberian vitamin A dalam dua dosis selama dua hari, sekaligus penguburan status gizi. Pemberian makanan tambahan untuk balita gizi buruk dan juga gizi kurang.

Kemudian jangka menengah yakni harus dilakukan imunisasi besar-besaran di 2018 di seantero Kabupaten Asmat.

“Jadi bukan hanya imunisasi campak saja, tetapi difteri, tetanus, hepatitis B dan BSG untuk penyakit tuber kulosis (TB), juga harus imunisasi,” ujarnya.

Uskup Keuskupan Agats, ibu kota Kabupaten Asmat Mgr Aloysius Murwito mengatakan kondisi kesehatan masyarakat di sana masih rendah.

“Dalam kunjungan saya ke sejumlah kampung sering dijumpai petugas puskesmas pembantu tidak di tempat. Sementara hubungan antara kampung dan puskesmas jauh dan hanya bisa ditempuh dengan transportasi air,” kata Aloysius.

Aloysius mengatakan, tidak ada jalan darat di Asmat. Kebijakan yang bagus dari pimpinan daerah sering kurang maksimal dilaksanakan di kampung karena dedikasi petugas dan juga alat komunikasi yang amat kurang.

“Belum ada jaringan komunikasi antarkampung dan pusat kampung kecuali dua pusat distrik,” ujarnya lagi.

Menurutnya, makanan yang bergizi juga kurang, sayuran terbatas. Tidak setiap hari dapat ikan. Karena itu, gizi ibu kurang dan air susu ibu menjadi kurang kualitasnya.

“Di daerah Asmat ini saya kira sekitar 40 persen kondisi kesehatannya masih di bawah standar normal,” ujarnya lagi.

Dia mengatakan, program imunisasi belum menjangkau setiap anak di kampung, kini terkena wabah campak menyerang anak-anak. Hal ini menandakan kondisi kesehatan semakin kritis.

Ia menuturkan, distrik-distrik yang dekat dengan pusat kabupaten, masyarakatnya lebih sehat karena lebih mudah dapat uang dari penjualan ikan dan kesadaran akan hidup sehat lebih baik. Tetapi masyarakat yang hidup di kampung-kampung di pedalaman yang minim akses, lebih sulit dalam mengelola hidup sehat.

“Waktu saya pimpin ibadah hari Minggu lalu, di Ewer Dekat Agsts, nampak anak-anak lebih sehat dan ceria,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan mengirimkan tim tenaga kesehatan maupun pendampingan untuk menangani kasus campak dan gizi buruk di Asmat.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo menjelaskan, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua sudah bertindak dalam menangani kasus campak dan gizi buruk.

“Kementerian Kesehatan akan bantu, akan ada bantuan baik logistik, SDM, maupun pendampingan yang lain,” kata Bambang.

Kementerian Kesehatan menyiapkan tim yang akan melakukan visitasi, supervisi dan pendampingan bagi tenaga kesehatan di Asmat.

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge