0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Orang yang Tidak Punya Uang Bisa Makan di Restoran Ini Dengan Bekerja 50 Menit

Restoran Mirai Shokudo. (nextshark.com )

Timlo.net—Mirai Shokudo (diterjemahkan sebagai Restoran Masa Depan), adalah sebuah restoran di distrik Jinbōchō di Tokyo, Jepang. Restoran itu menerima masyarakat yang tidak punya uang untuk makan di tempat mereka. Sebagai ganti uang, mereka bisa bekerja selama 50 menit di restoran.

Mirai Shokudo dimiliki oleh mantan teknisi Sekai Kobayashi, 33. Dia juga satu-satunya pegawai di restoran itu. Ada 12 kursi tersedia di restoran dengan sebuah kasir, tulis The Japan News. “Saya menggunakan sistem ini karena saya ingin menghubungkan orang-orang lapar yang tidak bisa makan di restoran karena mereka tidak punya uang,” ujar Sekai.

Wanita itu berkata dia membuka restoran itu dua tahun lalu. Dia bertujuan menciptakan sebuah tempat di mana siapapun disambut dan diterima. Awalnya Sekai tidaklah bekerja di bidang makanan dan minuman. Dia awalnya bekerja dalam manajemen toko sejak masih kuliah.

“Saya mencoba bisnis manajemen toko saat masih kuliah. Setiap tahun saat festival tahunan universitas, saya membuka sebuah kafe remang-remang dengan buku-buku.kafe itu memenangkan hadiah pertama dalam kontes popularitas di festival selama empat tahun saya kuliah di sana. Saya bahkan membuka kafe di festival sekolah lainnya,” terang Sekai.

Sekai lalu bekerja di sebuah bar di Golden Gai, Shinjuku, sebuah distrik di Tokyo yang dikenal untuk bar dan pub santai. Saat itu dia berusia 20 tahun. Setelah lulus, dia memperoleh pekerjaan yang tidak terkait dengan industri makanan dan minuman. Pekerjaan itu dia terima mengikuti saran seorang bos bar. “Tidaklah begitu buruk mengalami dunia luar,” ujar sang bos.

Dia bekerja sebagai seorang teknisi di IBM Jepang. Lalu dia pindah ke Cookpad, sebuah perusahaan yang menjalankan situs resep memasak. Di perusahaan itu terdapat dapur di mana para pegawai bisa memasak sendiri.

“Rekan-rekan kerja saya benar-benar suka makan siang yang saya buatkan untuk mereka. Hal ini menyakinkan saya untuk membuka restoran saya sendiri,” kata Seika.

nextshark.com

Dia lalu mengikuti kursus yang ditawarkan sebuah jaringan restoran ternama dan tempat-tempat lainnya. Lalu dia mulai menghabiskan waktu dan usaha membuka Mirai Shokudo. “Lewat berbagai metode lainnya, saya juga tetap membuat bisnis ini untung,” ujar Sekai. Menu makan siang di sana dijual seharga 900 yen (Rp 108.225). Walaupun menjadi wirausaha cukup berbeda dengan menjadi teknisi, beberapa hal yang Sekai pelajari dari profesi sebelumnya masih bisa diterapkan.

“Untuk mengelola restoran saya, saya mengadopsi model open-source—sebuah sistem di mana desain software tersedia secara gratis untuk masyarakat umum sehingga siapapun bisa mengembangkannya,” jelasnya.

“Saya menulis rencana bisnis dan finansial restoran saya di situs jadi saya bisa mengumpulkan masukan dari masyarakat umum bagaimana mengembangkannya. Informasi ini juga tersedia untuk mereka yang ingin membuka restoran sendiri. Berbagi sesuatu dengan orang lain berarti mendukung mereka dengan ambisi yang sama. Hal ini menekankan pendekatan saya terhadap pekerjaan,” terang Sekai.

Restoran itu masih menerima uang sebagai pembayaran. Membayar dengan tenaga hanyalah sebuah pilihan jika pengunjung tidak punya uang. Terutama untuk mereka yang kurang beruntung dan mahasiswa dengan keuangan terbatas.

Lebih dari 500 orang dikabarkan menggunakan tawaran Mirai. Mereka bekerja sebagai ganti uang untuk membeli makan. Orang-orang ini menerima kupon makanan yang bisa diserahkan di pintu masuk restoran.

Seorang mantan guru berusia 56 tahun juga menolong Sekai mengelola Mirai Shokudo sejak Juli 2017. “Pekerjaan ini menyenangkan karena saya bekerja dengan orang baru setiap kali. Merupakan hal yang menarik untuk mengembangkan rapor yang baik dan bekerja dengan yang lain,” ujar mantan guru wanita itu. Dia berharap suatu hari dia akan memiliki usaha sendiri di bidang industri makanan.

nextshark.com

Sebuah restoran dengan konsep serupa dibuka di Kyoto, Jepang. Restoran itu bernama Gyoza No Onsho. Para mahasiswa dan siswa yang tidak punya uang untuk makan bisa makan di sana. Sebagai ganti uang pembayaran, mereka bisa mencuci piring dan peralatan makan.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge