0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Babak Baru Persis Solo dan Persis GR

Para punggawa Persis Solo melahap porsi latihan fisik berupa test Vo2Max di Stadion Manahan, (timlo.net/aryo yusri atmaja)

Solo – Kongres tahunan yang digelar PSSI di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpon Damai, Tangerang, Sabtu (13/1) menimbulkan efek domino hingga ke Kota Solo. Ya, Kota Bengawan masih disibukkan oleh perseteruan sesama klub asal Solo, yakni Persis Solo dan Persis Gotong Royong (GR).

Dalam kongres di Tangerang siang tadi, terdapat 40 klub terdegradasi ke Liga 4 yang mengusulkan agar tetap bertahan di Liga 3 musim ini. Salah satunya adalah Persis GR Solo yang musim lalu hanya sampai ke babak 32 besar Liga 3 tingkat nasional. Hal tersebut membuat kubu Persis Solo yang ada di Liga 2 melakukan penolakan.

“Secara tegas kami langsung ajukan penolakan usulan itu. Karena mereka (Persis GR-red) menggunakan nama dan logo yang sangat mirip. Bagi kami itu sudah melanggar hak paten dan ketentuan yang ada. Persis Solo yang resmi adalah tim yang berada di bawah naungan PT Persis Solo Saestu,” terang Sekjen Persis Solo, Dedi M Lawe yang menjadi perwakilan Persis di Kongres tahunan PSSI.

Perseteruan dua klub ini dimulai sejak akhir 2016 silam. Berawal ketika terjadi perpindahan pengelolaan klub Persis Solo oleh PT Syahdhana Properti Nusantara milik Sigid Haryo Wibisono yang kemudian Persis dikelola oleh perusahan sebelumnya yaknk PT Persis Solo Saestu.

Sementara pengurus lama Persis Solo kemudian mengelola dan membesarkan klub Persis Gotong Royong yang sebelumnya bernama Pusat pelatihan (Puslat) Persis Muda. Secara logo dan nama pun tidak terlalu banyak perbedaan. Hal inilah yang membuat pihak Persis Solo meradang.

Dedi M Lawe mengaku tidak mengetahui pihak yang mengusulkanya. Usulan itu juga masih ditampung PSSI. Dia tak menampik adanya peluang dari PSSI untuk menyetujui usulan tersebut.

Dedi pun mengusulkan tersebut supaya menggunakan nama berbeda. Sehingga dapat diterima semua pihak baik manajemen maupun suporter di Kota Solo sendiri.

”Kami tidak masalah jika nantinya ada dua klub professional di Solo. Asal namanya berbeda, misalnya Solo United, Solo FC atau nama lain. Yang penting nggak sama dengan nama Persis. Jika nanti ada dua klub yang punya nama dan logo sama persis, pastinya timbul masalah bagi suporter maupun sponsor. Nanti membingungkan suporter dan sponsor,” tandas Dedi.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge