0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Koki Ini Justru Menyesal Peroleh Michelin Star

Jay Fai. (nextshark.com )

Timlo.net—Bagi banyak koki, sebuah bintang Michelin (Michelin star) dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa. Bintang itu akan secara otomatis mengangkat status seorang koki atau sebuah restoran hingga bisa masuk daftar restoran elit dunia.

Akan tetapi koki bernama Supinya Junsuta alias “Jay Fai” dari Thailand ini justru menyesal memperoleh Michelin star. Nenek berusia 72 tahun itu merasa jika bintang itu malah menyebabkan kerugian untuk warung makannya, Raan Jay Fai.

Sebulan lalu, perusahaan asal Perancis, Michelin memulai debutnya di Bangkok, Thailand. Mereka memberikan satu bintang kepada 14 tempat makan dan tiga tempat makan dengan tiga bintang. Jay Fai merupakan salah satu penerima satu bintang dalam seleksi pertama Michelin guide Bangkok.

Akan tetapi dalam wawancara dengan Eater, koki itu mengungkap dia lebih memilih mengembalikan bintang itu. “Saya harap saya bisa mengembalikan bintang itu,” ujarnya. Koki itu dikenal untuk menu masakannya khai jeaw poo (omelet kepiting) dan poo phad phong karee (tumis kepiting bumbu kari). Jay biasanya memasak dengan kacamata google. Dia dijuluki sebagai “Mozart of the Wok”. Rupanya dia terganggu dengan perhatian yang diperoleh warungnya secara mendadak. Setelah terkenal, Jay Fai memutuskan tidak menaikkan harga menu makanan. Dia ingin tetap mempertahankan para pelanggan setianya yang sudah bersamanya sebelum dia menerima bintang itu.

Sejak memperoleh bintang Michelin, warung makannya menjadi tujuan wisata kuliner favorit. Yang berkunjung adalah mereka yang benar-benar ingin mencicipi makanannya dan para turis yang ingin mengambil foto untuk Instagram. “Banyak orang datang hanya untuk melihat-lihat dan berfoto dan tidak untuk makan,” ujarnya.

Karena warung makannya kecil, dengan ketenaran mendadak yang dia peroleh, Jay terpaksa menggunakan sistem pemesanan. Antrian untuk makan di restorannya itu bisa mencapai dua jam lamanya, ujar Nextshark.

Jay juga memasak sendirian. Dia bekerja dari pukul 14:00 hingga pukul 1 dini hari setiap harinya. Dia hanya libur pada hari Minggu. Ada tiga pramusaji dan puterinya Varisa Junsuta dan Yuwadee Junsuta yang menolongnya.

Yuwadee menjelaskan naiknya jumlah pembeli membuat ibunya mudah lelah. “Para pembeli sekarang datang dengan harapan yang tinggi dan mereka pada dasarnya mencari tanda bintang Michelin juga makanan standar Michelin. Tapi semoga pada kunjungan kedua atau ketiga, mereka akan datang karena mencari Jay Fai dan meminta dimasakkan makanan favorit mereka seperti para pelanggan kami,” terangnya.

Yuwadee juga menekankan jika reputasi restoran dari para pelanggan lebih penting. “Sebelum atau sesudah Michelin, kami melihat diri kami dengan cara yang sama, sedangkan yang lain mungkin melihat kami sebagai sebuah restoran bintang Michelin. Lagipula, Jay Fai tetaplah Jay Fai. Kapanpun pembeli datang dan berkata mereka menyukai makanan kami, kami memperoleh hadiah jutaan bintang yang berarti bagi kami setiap harinya,” tambahnya.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge