0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Peneliti Temukan Teori Soal Firasat Atau Intuisi

Ilustrasi intuisi. (indy100.com)

Timlo.net—Kadang-kadang kita bisa memahami sesuatu tanpa penjelasan verbal. Pemahaman tanpa proses berpikir ini seringkali disebut intuisi atau firasat. Lantas bagaimana orang bisa memiliki intuisi atau firasat itu? Seorang profesor menawarkan teori tentang hal ini.

Seperti yang kita tahu, bahasa hanyalah salah satu cara manusia berkomunikasi. Sinyal non-verbal juga bisa digunakan untuk berkomunikasi. Tapi Digby Tantam, seorang profesor psikoterapi dari the University of Sheffield menawarkan teori yang lebih jauh lagi. Dia berpendapat jika otak manusia saling terhubung seperti WiFi.

Dia beranggapan jika otak hanya menerima sinyal mikro dari otak lain. Sinyal itu mungkin berisi tentang pikiran atau perasaan orang lain. Saat otak menangkap pesan itu, maka itulah yang disebut firasat atau intuisi. Kepada The Telegraph, Digby menyebut fenomena itu sebagai “The Interbrain”.

“Kita bisa tahu secara langsung tentang perasaan orang lain dan apa yang mereka perhatikan. Hal ini berdasarkan hubungan langsung antara otak kita dan otak orang lain dan antara otak mereka dan kita. Saya menyebut hal ini sebagai interbrain. Salah satu keuntungannya adalah koneksi itu terjadi di latar belakang. Kita mengabaikannya kecuali saat muncul di permukaan pikiran kita,” terang Digby.

Komunikasi antar otak itu juga terkait dengan indera penciuman. Area otak yang memiliki banyak aktivitas syaraf adalah korteks prefrontal. Bagian itu terhubung dengan indera penciuman. Jika kimia otak berubah, Anda mengeluarkan molekul yang menandakan perasaan seperti takut atau rangsangan seksual.

Dia beranggapan inilah sebabnya orang-orang bisa merasakan emosi yang sama dalam kegiatan tertentu. Misalnya saat beribadah, menonton pertandingan atau konser.

“Pengalaman transendensi adalah salah satunya dan mungkin inilah akar dari spiritualitas dan memang banyak orang akan menganggap itu sebagai makna hidup. Berada di tengah banyak orang membuat kita mengalami rasanya keluar dari perspektif, waktu, tempat dan kapasitas kita, merasakan sebuah momen,” terangnya.

Digby menulis penelitiannya itu dalam buku barunya, “The Interbrain”. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kita menerima atau membantah teorinya.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge