0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Muncul Politik Baru Politik Identitas

Agus Riewanto (timlo.net/eko prasetyo)

Solo — Pilkada Jateng termasuk pilkada yang unik karena adanya stigma politik jika Jateng sebagai kandang banteng sehingga siapapun yang diusung oleh PDIP dalam pilkada, diyakini pasti jadi. Padahal dalam Pilkada beberapa waktu terakhir, muncul gejala politik baru yakni politik identitas.

“Jika sebelumnya ideologi politik berbasis pada partai, pola baru tersebut lebih menitikberatkan pada ketokohan atau identitas,” ungkap Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Dr Agus Riewanto SH MH kepada wartawan saat berkomentar tentang Pilkada, di Kampus UNS, Solo, Kamis (11/1).

Riewanto panggilan akrabnya, mengemukakan, pola baru tersebut lebih mengedepankan identitas seperti agama, ras, gender, ketokohan dan lain sebagainya. ia mencontohkan di Pilkada Jakarta dimana politik identitas tersebut terjadi.

Langkah DPP PDIP yang memilih Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) untuk mendampingi calon gubernur Ganjar Pranowo dalam Pilkada Jateng 2018, menurut  Riewanto, merupakan langkah antisipasi yang dilakukan PDIP untuk mengurangi ekses jika politik identitas seperti di Jakarta terjadi di Jawa Tengah.

”PDIP tidak mau beresiko sehingga dipilihlah Taj Yasin. Sebab dalam politik, segala sesuatu mungkin saja terjadi. Apalagi, karena adanya politik identitas tersebut, PDIP kalah dalam Pilkada Jakarta,” ujarnya.

Riewanto mengatakan, PPP kubu Djan Fariz yang mengajukan Gus Wafi yang juga saudara kandung Gus Yasin untuk disandingkan dengan Calon Gubernur yang diusung koalisi Gerindra, PAN dan PKS Sudirman Said, jika hal itu terealisasi maka hal tersebut merupakan strategi untuk memecah perolehan suara.

Kendati Pilkada Jateng bakal lebih dinamis dibanding periode sebelumnya, namun, kata Riewanto, tidak akan sampai hiruk pikuk seperti halnya saat pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta lalu.

”Sebab sosiokultur, pluralisme maupun pandangan masyarakatnya berbeda. Di Jateng, banyak tokoh panutan yang masih diturut masyarakat. Masyarakat Jawa Tengah juga tak seplural kota Jakarta dan mayoritas warganya berada di pedesaan,” ujarnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge