0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Seorang Panitera Didakwa Menerima Suap

ilustrasi penipuan (dok/Timlo.net)

Timlo.net – Mantan panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Tarmizi, didakwa menerima suap Rp 425 juta terkait sebuah perkara. Uang tersebut diterima Tarmizi dari pengacara PT Aquamarine Divindo Inspection, Akhmad Zaini.

“Didakwa melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, yaitu menerima hadiah uang,” ujar Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dody Sukmono di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (11/1).

Uang tersebut, menurut jaksa, patut diduga agar Tarmizi bisa mempengaruhi hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menolak gugatan PT Eastern Jason Fabrication Services. Selain itu, uang tersebut juga ditujukan agar gugatan rekopensi serta mengabulkan sita jaminan PT Aqua Marine Divindo Inspection selaku pihak tergugat.

Dijelaskan jaksa, sekitar Mei 2017, Akhmad Zaini menemui Tarmizi di ruang Panitera Pengganti PN Jakarta Selatan. Saat itu, Akhmad Zaini menyampaikan akan menghadiri sidang sekaligus meminta tolong agar disampaikan kepada Ketua Majelis Hakim yang mengadili perkara tersebut, Djoko Indiarto.

Pada awal Juni 2017, Tarmizi menyampaikan kepada Djoko soal permintaan Akhmad Zaini. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan jika Akhmad Zaini menanyakan terkait perkara tersebut sudah dipelajari atau belum. Saat itu, Djoko mengaku belum mempelajari perkara tersebut.

Kemudian, pada 15 Juni 2017, Akhmad Zaini menyampaikan kepada Tarmizi jika pihaknya sanggup memberikan THR sejumlah Rp 25.000.000. Ia juga meminta nomor rekening Tarmizi untuk mengirimkan uang tersebut.

Tarmizi lalu mengirimkan nomor rekening atas nama Junaedi alias Tedy Junaedi agar uang tersebut dikirimkan ke rekening itu. Kemudian, pada tanggal 20 Juni 2017, Akhmad Zaini mengirimkan uang sejumlah Rp 25.000.000 yang dijanjikannya.

Sehari berselang setelah pengiriman uang, Tarmizi menyampaikan kepada Akhmad Zaini jika dirinya telah dipanggil kembali oleh Djoko Indiarto. Saat itu ia menyampaikan jika Djoko telah memercayainya sebagai orang yang berkomunikasi dengan pihak PT Aquamarine Divindo Inspection.

“Pada tanggal 29 Juni, persidangan perkara gugatan perdata dimulai kembali. Akhmad Zaini kemudian menemui terdakwa dan menanyakan soal kompensasi apa yang harus diberikan agar perkaranya dapat dimenangkan,” tutur jaksa.

Tarmizi kemudian menyatakan jika Akhmad Zaini perlu menyiapkan uang sejumlah Rp 750.000.000. Atas permintaan itu, Akhmad Zaini akan mempertimbangkannya.

Selanjutnya, pada 16 Juli 2017, Tarmizi memberi kabar pada Akhmad Zaini jika ia akan pergi ke Surabaya beserta rombongan keluarga dan teman-temannya. Akhmad Zaini lalu memesankan kamar untuk menginap di Hotel Garden Palace Surabaya serta memberikan fasilitas lainnya berupa hotel/villa di Kota Batu, Malang dengan total harga sejumlah Rp 4.500.000.

“Akhmad Zaini juga memberikan fasilitas mobil selama 3-4 hari kepada terdakwa dan rombongan dengan nilai harga sejumlah Rp 5.000.000 yang dibayar PT AMDI,” lanjutnya.

Jaksa melanjutkan, masih pada hari yang sama, Tarmizi dan Akhmad Zaini bertemu di kamar hotel untuk membicarakan tindak lanjut upaya memenangkan perkara.

Pada pertemuan itu, Akhmad Zaini meminta agar Tarmizi memengaruhi hakim mengabulkan tiga paket permohonan dari PT AMDI.

“Terdakwa kemudian menyanggupi permintaan Akhmad Zaini dan mengatakan jika majelis hakim meminta uang Rp 750.000.000,” jelas jaksa Dody.

Namun, pihak PT AMDI merasa keberatan dengan permintaan Tarmizi. Kedua pihak akhirnya menyepakati uang yang akan diberikan yakni Rp400.000.000.

Pada tanggal 13 Agustus 2017, Tarmizi kembali menemui Djoko Indiarto. Dalam pertemuan itu, ia mengonfirmasi kembali soal permintaan Akhmad Zaini ke Djoko.

Untuk merealisasikan permintaan Tarmizi, pada 16 Agustus Akhmad Zaini mengirimkan uang Rp 100.000.000 ke rekening Junaedi. Setelah itu, Akhmad menemui Tarmizi di ruang panitera pengganti PN Jakarta Selatan untuk memberikan cek senilai Rp 250.000.000.

Atas perbuatnnya, Tarmizi didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge