0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sikap Peradi Saat Fredrich Yunadi Masuk Daftar Cekal

Fredrich Yunadi (merdeka.com)

Timlo.net – Sejumlah nama masuk dalam daftar pencegahan ke luar negeri, terkait kasus dugaan korupsi e-KTP yang dilakukan Setya Novanto (Setnov). Mereka adalah Fredrich Yunadi; kuasa hukum Setya Novanto, AKP Reza Pahlevi; ajudan Setya Novanto, Hilman Mattauch: mantan kontributor stasiun TV swasta sekaligus pengemudi mobil saat kecelakaan tunggal terjadi, dan Achmad Rudyansyah.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mengajukan pencegahan ke luar negeri kepada Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM per Desember 2017.

Fredrich sendiri telah mendapat bantuan hukum dari Tim Kuasa Hukum DPN Peradi, yang dipimpin langsung Oleh Wakil Ketua Umum DPN Peradi Supriyanto Refa. Karena, dia menilai, KPK telah mengkriminalisasi profesi advokat.

Supriyanto Refa menjelaskan, dalam pasal 16 UU advokat jo putusan MKRI No 26/PUU-XI/2013 bahwa advokat tidak dapat dituntut baik secara pidana maupun perdata sejak advokat menerima kuasa. Sehingga tim hukum DPN Peradi dan 50.000 anggota advokat Peradi seluruh Indonesia akan membela Profesi advokat.

“Tindakan arogan KPK telah melecehkan profesi advokat dan profesi advokat terancam punah jika gaya membela advokat dianggap merintangi penyidikan, masalah ini tidak hanya masalah pribadi FY, tapi juga nasib advokat secara nasional,” kata Supriyanto Refa, Rabu (10/1).

Dia menegaskan, jika gaya membela advokat diasumsikan sebagai tindakan merintangi penyidikan, artinya KPK mengkerdilkan semangat pembelaan advokat. Sementara KPK dan advokat bergerak sama berdasarkan undang-undang.

“Apakah kita membiarkan UU Advokat diinjak injak KPK? Sebab tidak ada upaya merintangi penyidikan yang lakukan selama membela Pak SN, sebab keseluruhan yang abang FY tampilkan dilayar kaca adalah style atau gaya advokat. Nah apakah gaya pembelaan tersebut bisa diasumsikan sebagai tindakan merintangi penyidikan?” jelas Supriyanto.

Sebelumnya, juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, pencegahan terhadap keempat orang tersebut berlandaskan pasal 12 ayat 1 huruf b Undang-undang KPK tentang pelarangan seseorang ke luar negeri.

Pasal tentang pencegahan ini sebelumnya sempat digugat oleh kubu Setya Novanto melalui Kuasa hukumnya Fredrich Yunadi ke Mahkamah Konstitusi saat itu pasal yang di uji materi kan adalah pasal 12 dan 46 ayat 1 dan ayat 2 Undang-undang KPK.

Sementara itu, dalam penyelidikan merintangi penyidikan Setya Novanto, Hilman diduga ikut menyembunyikan mantan ketua DPR itu ketika tengah dicari-cari penyidik KPK ke rumahnya kawasan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta selatan.

KPK juga sempat menyampaikan peringatan keras agar tidak ada pihak yang mencoba menyembunyikan mantan ketua umum Partai Golkar itu untuk jalani proses hukum sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP saat itu.

“Ancaman hukumannya cukup berat yakni tiga sampai 12 tahun penjara. Tentu KPK harus pelajari lebih dulu sejauh mana perbuatannya,” ucap Febri.

[fik]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge