0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Muhammadiyah PK Solo Dikunjungi Dikdasmen Babel 

Perguruan Muhammadiyah PK Solo diikunjungi rombongan Dikdasmen Muhammdiyah Babel  (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Jajaran Pimpinan Majelis Pendidikan dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Wilayah Propinsi Bangka Belitung (Babel) mengunjungi Perguruan Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kotabarat Solo, Senin (8/1). Rombongan yang dipimpin Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Baidowi terdiri dari Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Bangka Belitung, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Muhammadiyah Bangka Belitung Enang Ahmadi dan sejumlah guru SMP Muhammadiyah Muntok, Bangka Barat.

Ketua LPMP Muhammadiyah  Bangka Belitung Enang Ahmadi mengemukakan, kunjungan ini dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Bangka Belitung sekaligus ingin mengkloning sistem dan program pendidikan di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat yang terdiri atas KB-TK, SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

“Sistem dan programnya memiliki banyak keunggulan-keunggulan,” ujarnya saat bertemu wartawan, di Perguruan Muhammadiyah PK Solo.

Enang mengemukakan, kunjungan dan silaturahim yang dilakukan untuk membantu percepatan pendidikan di SD dan SMP Muhammadiyah Bangka Belitung. “Kami ingin menjadikan sekolah hebat dan selalu berprestasi,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Ketua Komite Perguruan Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Marpuji Ali mengatakan, awal berdirinya sekolah ini berada di Masjid Kottabarat menjelang tahun 2000-an. Sekolah ini dinamakan program khusus dengan kekhususan pada program kurikulum syariah. Nilai-nilai syariah dijadikan landasan dalam kurikulumnya.

“Penerapan kurikulum syariah pada sains syariah seperti menjelaskan sumber energi bukan hanya matahari melainkan mengarah pada Mahapencipta matahari yaitu Allah SWT. Nilai-nilai ketauhidan dimasukkan di dalamnya,” paparnya.

Marpuji Ali juga menjelaskan, membangun sebuah sekolah perlu merangkul semua pihak termasuk tenaga-tenaga muda yang berjiwa visioner. Sekolah baru jangan memikirkan provit terlebih dahulu, tetapi perlu berusaha bersama untuk membuat sejarah. Selain itu, tenaga pendidik jangan diposisikan seperti sapi perah. Mereka perlu mendapatkan sesuatu agar bisa berkembang.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge