0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Aokigahara, Hutan Bunuh Diri di Jepang

Hutan Aokigahara. (nextshark.com)

Timlo.net—Jembatan Sungai Nanjing Yangtze di Cina, Jembatan Golden Gate di Amerika Serikat (AS), Jembatan Prince Edward di Kanada dan Hutan Aokigahara di Jepang. Apa kesamaan tempat-tempat ini? Mereka dikenal masyarakat sebagai tempat untuk bunuh diri.

Perbedaan Jembatan Prince Edward dan dua jembatan lainnya adalah Kanada membangun Luminous Veil, pagar baja di sekitar jembatan. Tujuan pagar itu untuk mencegah masyarakat menggunakan Jembatan Prince Edward untuk bunuh diri. Amerika dan Cina bisa mengikuti langkah Kanada. Tapi mencegah bunuh diri di hutan Aokigahara sulit dilakukan.

nextshark .

Aokigahara disebut juga sebagai Lautan Pohon. Hutan ini memiliki nuansa misterius dan menyeramkan di dalamnya. Warga sekitar merasa jika hal ini dikarenakan arwah-arwah orang yang bunuh diri di dalamnya. Dikatakan arwah-arwah itu ditakdirkan untuk menghantui hutan itu untuk selamanya. Awal mulai hutan itu dijadikan tempat bunuh diri adalah pada 1950-an. Para pegawai kantoran di sana yang ingin bunuh diri, masuk ke Aokigahara dan tidak pernah terlihat lagi. Pada 2003, 105 mayat ditemukan di dalam hutan. Penemuan itu mengalahkan rekor tahun sebelumnya di mana hanya ditemukan 78 mayat.

nextshark.

Sebagian besar kasus bunuh diri dilaporkan terjadi selama Maret, akhir tahun fiskal di Jepang. Selama bulan ini, banyak perusahaan mengevaluasi kondisi finansial mereka. Setelah itu mereka menentukan apakah mereka tetap berbisnis atau tutup.

nextshark.

Taro, seorang pria Jepang juga berniat bunuh diri di hutan itu. Dia membeli tiket satu kali jalan ke Aokigahara setelah kehilangan pekerjaannya di sebuah perusahaan, tulis Nextshark. Hidupnya serasa hancur setelah hutangnya menumpuk. “Keinginan saya untuk hidup menghilang. Saya kehilangan identitas saya, jadi saya tidak ingin hidup lagi di bumi ini. Itulah kenapa saya pergi ke sana,” ujarnya.

Setelah sampai di Lautan Pohon itu, Taro mengiris pergelangan tangannya. Lukanya tidak begitu dalam, jadi dia berkeliaran di dalam hutan selama beberapa hari. Menunggu kematian datang menghampirinya.  Kelaparan, dehidrasi, kedinginan dan lemah karena kehilangan darah, Taro pingsan di semak-semak. Tinggal sesaat sebelum kematian datang menjemputnya. Tapi nasib berkata lain saat seorang pendaki menemukan dirinya dan menolong pria itu. Taro kehilangan salah satu jempol kakinya karena suhu dingin, tapi dia selamat.

nextshark.

Angka bunuh diri di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Bunuh diri di sana dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial misalnya pekerjaan dan keuangan yang tidak stabil. Sebagian besar pelaku bunuh diri di negara itu adalah pria berusia 20 hingga 44 tahun. “Pengangguran menjadi penyebab utama. Masyarakat dan pemerintah perlu membuat solusi untuk mencegah bunuh diri. Seharusnya ada tempat di mana mereka bisa datang dan meminta pertolongan,” ujar Toyoki Yoshida, seorang konselor bunuh diri dan kredit.

Toyoki dan rekan-rekannya sesama relawan menyediakan waktu untuk memasang tanda di sekitar hutan. Mereka mendesak masyarakat yang ingin bunuh diri di hutan itu untuk menghubungi organisasi mereka. Di mata mereka, Jepang memandang rendah pengangguran dan pengusaha yang bangkrut. Bunuh diri dianggap sebagai cara paling terhormat untuk mengatasinya. Bahkan kadang-kadang dianggap sebagai satu-satunya jalan.

Pemerintah lokal juga memasang tanda-tanda di sepanjang hutan. Salah satunya bertuliskan, “Hidup Anda adalah sesuatu yang berharga yang diberikan oleh orang tua Anda.” Tanda lain berisi pesan, “Ingat orang tua, saudara dan anak-anak Anda sekali lagi. Jangan menanggung masalah sendirian.”

Kamera-kamera keamanan juga dipasang di jalan masuk ke hutan. Tujuannya untuk melacak siapa saja yang masuk seandainya ada yang tidak keluar lagi. Polisi juga ditugaskan untuk menyisir kawasan hutan mencari mayat setiap tahunnya, sebelum musim liburan. Jika memungkinkan, mereka diminta mengidentifikasi mayat-mayat itu.

nextshark.

“Terutama pada Maret, akhir tahun fiskal, lebih banyak orang yang akan datang ke sini untuk bunuh diri karena ekonomi buruk,” kata Imasa Watanabe, Pemerintah Wilayah Yamanashi.

“Impian saya adalah menghentikan bunuh diri di hutan ini, tapi sejujurnya sulit mencegah semua kasus di sini,” tambahnya.

Dengan viralnya video yang diunggah Logan Paul, dia kuatir jika Aokigahara dianggap sebagai tempat yang ideal untuk mereka yang ingin mengakhiri hidup mereka. Tapi para petugas di sana menyangkal hal ini. “Saya sudah melihat banyak mayat di sana yang membusuk atau dimakan hewan liar..Tidak ada yang indah tentang mati di sana,” ujar seorang petugas.

Setahun setelah berusaha bunuh diri, Taro masih tidak memiliki pekerjaan dan rumah. Dia seringkali merasa ada dorongan untuk bunuh diri. Tapi dia memutuskan untuk tetap bertahan. “Saya mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi saya tidak tahu sejauh apa saya bisa terus menolaknya. Untuk saat ini, keinginan untuk hidup lebih kuat,” ujarnya.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge