0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Para Ahli Kuatir 30 Tahun Lagi Coklat Punah Dari Bumi

Biji coklat organik. (metro.co.uk)

Timlo.net—Para ahli kuatir dunia akan kehabisan coklat dalam 30 puluh tahun mendatang. Hal ini dikarenakan tanaman kakao kesulitan tumbuh dalam cuaca yang lebih hangat. Pohon kakao tumbuh dalam kondisi lembab seperti pada hutan hujan. Pohon itu bertahan berkat hujan terutama di daerah yang dekat dengan khatulistiwa.

Tapi ancaman suhu yang naik selama tiga dekade mendatang berarti tanah akan kehilangan kelembabannya. Hujan tidak akan bisa mengatasi kondisi ini. Selama 30 tahun ke depan, suhu diperkirakan naik 2,1 derajat Celsius karena pemanasan global. Kondisi ini dikuatirkan menjadi akhir untuk industri coklat di seluruh dunia, tulis the US National Oceanic and Atmospheric Administration dilansir dari Metro.co.uk. Para petani di negara seperti Côte d’Ivoire dan Ghana menyumbang 50 persen produksi coklat di dunia. Mereka sekarang menghadapi tantangan dalam keputusan untuk memindahkan produksi kakao ke wilayah atas pegunungan. Tapi pemindahan ini bisa menghancurkan ekosistem mereka yang sudah sekarat.

Tahun lalu, para ahli memprediksikan jika dunia mengalami defisit coklat karena konsumsi masyarakat yang bertambah. Konsumen Barat pada umumnya memakan rata-rata 286 batang coklat per tahun, menurut data penelitian berjudul “Destruction by Chocolate”. Dari 286 batang, para produsen perlu menanam 10 pohon kakao untuk membuat biji coklat dan mentega, bahan utama coklat. Sejak 1990-an, lebih dari satu miliar orang dari Cina, Indonesia, India, Brazil dan bekas Uni Soviet memasuki pasar biji coklat. Walaupun permintaan naik, pasokan barang tidak bisa mengimbanginya dan stok biji coklat dikatakan menipis.

Doug Hawkins dari lembaga penelitian di London, Inggris, Hardman Agribusiness berkata produksi biji coklat berada dalam bahaya. Hal ini karena metode penanaman tidak berubah selama ratusan tahun. “Tidak seperti tanaman pangan lain yang merasakan manfaat dari perkembangan modern, produksi dalam jumlah tinggi dan teknik manajemen pangan untuk menyadari potensi genetis mereka, lebih dari 90 persen tanaman kakao global diproduksi oleh petani kecil pada pertanian subsisten dengan peralatan tanam kuno,” katanya kepada MailOnline.

“Dari semua indikator yang bisa kita lihat akan ada defisit coklat 100 ribu ton per tahun dalam beberapa tahun ke depan,” tambahnya.

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge