0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Solo Documentary Film Festival Digelar Tahun 2018

Jumpa pers Solo Documentary Film Festival (SODOC) (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Dua tahun setelah digelarnya Solo Documentary Film Festival (SODOC) pertama, acara festival film ini kembali hadir menyapa pecinta film dokumenter melalui soft launching. Acara yang mengambil venue di Ballroom Lawang Djoendjing ini berupaya untuk menggugah memori publik terhadap acara yang akan digelar tahun depan. Acara screening film sendiri akan dilaksanakan pada Sabtu (16/12) malam. Penonton akan dibatasi sekitar 150 orang, lantaran keterbatasan lokasi screening.

“SODOC sendiri memang acara dua tahunan, hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas film yang dibuat untuk disajikan di festival ini. Namun diantara dua tahun tersebut kami menggelar acara soft launching sebagai ajang pemanasan baik bagi panitia maupun bagi penonton,” ungkap Ketua Panitia soft launching SODOC, Dhimas Erdhita, Jumat (15/12).

Dalam acara ini akan dipertontonkan empat judul film dokumenter, diantaranya adalah film pendek pertama berjudul Ahu Parmalim besutan sutradara Cicilia Maharani. Film ini dipersembahkan oleh Yayasan Kampung Halam dan Tifa. Film ini diputar untuk memperingati Hari Toleransi Internasional pada 16 November 2017.

Film pendek kedua karya sutradara Wayu Utami berjudul The Unseen Word. Film ini meraih penghargaan film dokumenter pendek terbaik diajang Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Selain dua film pendek tersebut, juga ada dua film dokumenter panjang yakni Balada Bala Sinema yang disutradarai Yuda Kurniawan. Film ini turut masuk sebagai Nominasi Film Panjang Terbaik FFI. Film panjang kedua karya sutradara Shalahuddin Siregar dengan judul Negeri Di Bawah Kabut. Film ini meraih Spesial Juri Prize dari Dubai Internasional Film Festival dan dinobatkan menjadi Film Dokumenter terbaik 1 Dekade ini.

“SODOC sendiri akan berlangsung pada Oktober 2018 mendatang,” imbuhnya.

Dalam acara tersebut akan ada berbagai acara. Di antaranya Open Submission yang akan menjadi wadah distribusi film-film dokumenter di dunia. Apresiasi seperti roadshow memutar dan mengenalkan film dokumenter kepada masyarakat di berbagai tempat. Hingga Malam Puncak atau malam penganugrahan kepada film dokumenter dan filmmaker yang terpilih sebagai penghargaan atas film yang dibuat.

SODOC bertujuan sebagai bentuk kepedulian Mahasiswa dan Mahasiswi Televisi dan Film Surakarta dalam membantu memajukan perlilman Indonesia, khususnya di film dokumenter serta dapat menjadi wadah eksebhisi, apresiasi, dan distribusi para pembuat film dokumenter.

Selain itu, acara ini dapat menjadi ajang kompetisi terlebih menjadi wadah bagi filmmaker untuk menyalurkan karyanya di kancah global dan berguna bagi pembuat film untuk meningkatkan kualitas, serta menunjukkan realitas sosial yang ada kepada masyarakat melalui sudut pandang dokumenter.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge