0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ancaman Merapi Masih Nyata, Ini Pesan BPBD untuk Desa Paseduluran

Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Sarwa Pramana, mengisi kegiatan fasilitasi dan koordinasi Desa Paseduluran se- Klaten (timlo.net/a wijaya)

Klaten — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah (BPBD Jateng) mendorong desa- desa yang tergabung dalam Desa Paseduluran atau Sister Village untuk menyiapkan infrastruktur. Langkah tersebut sebagai erupsi Gunung Merapi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Saran saya kepada perangkat desa, segera rapat di RT/RW bahwa Merapi ini sudah tujuh tahun (sejak erupsi terakhir 25 Oktober 2010), tapi ancamannya masih nyata. Klaten bergerak untuk mengingatkan kembali sister village,” kata Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng Sarwa Pramana, dalam kegiatan fasilitasi dan koordinasi Desa Paseduluran Gunung Merapi Klaten di gedung Dharma Wanita setempat, Senin (20/11).

Berdasarkan SK Kepala BPBD Klaten Nomor 26 Tahun 2015 tentang Desa Paseduluran ada 13 Desa Asal dan 20 Desa Penyangga.  Desa Asal merupakan desa di Kecamatan Kemalang yang tinggal di daerah kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi. Sedangkan Desa Penyangga merupakan desa aman untuk menjadi tempat pengungsian.

Mengingat hal itu, Sarwa meminta puluhan Desa Penyangga untuk menyiapkan infrastruktur fasilitas publik seperti MCK, tempat solat, hingga dapur umum. Selain itu, dia berharap Pemkab bisa turun tangan menyiapkan infrastruktur jika tidak mampu mengakomodir lewat APBDes.

“Saya usulkan gunakan balai desa, sekolah, dan fasilitas publik lainnya. Selain itu didukung dengan penyediaan MCK, dapur umum, rumah ibadah, dan tempat bercinta. Karena kalau mengungsi sampai seminggu, jawab jujurb saja, pasti mengganggu pemilik rumah dan bikin enggak nyaman. Mudah-mudahan tujuh tahun sejak erupsi Merapi 2010 sekarang masyarakat lebih siap,” pesannya.

Disisi lain, BPBD bersama Pemprov Jateng telah menyusun Rencana Kontijensi (Renkon) kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Merapi jika meletus di tiga kabupaten yakni Klaten, Boyolali dan Magelang. Sebab kecepatan meluncurnya awan panas atau akrab disebut wedhus gembel mencapai 100 Km per jam dengan panas 830 derajat celcius.

“Renkon hari ini sudah berproses dan tinggal ditandatangani gubernur. Karena pergerakan aktivitas Merapi dari level awas ke meletus ini terlalu cepat. Sampai ada satu nyawa di KRB III melayang bisa jadi tragedi nasional. Pemda juga jangan hanya diam. Ini real time loh,” imbuh Sarwa.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge