0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Modus Ganjal ATM, Dua Pemuda Ini Sukses Kantongi Rp 75 Juta

Polisi olah TKP pembobolan ATM (merdeka.com)

Timlo.net – Polisi menangkap dua pemuda PA (21) dan RS (18) asal Sumatera Selatan yang diketahui komplotan pembobol mesin ATM di Yogjakarta. Dalam aksinya, keduanya menggunakan modus ganjal mesin ATM.

Kapolsek Depok Barat, Kompol Sukirin Haryanto, mengatakan dari pembobolan yang dilakukan, keduanya mengantongi Rp 75 juta. Jumlah itu didapat dari sejumlah ATM di Yogjakarta.

“Para pelaku ini tertangkap berawal dari laporan seorang korban yang mengalami kerugian sebanyak Rp 62 juta pada 16 Oktober yang lalu. Saat itu korban tengah melakukan transaksi di sebuah supermarket di Babarsari. Pelaku sebelumnya sudah mengganjal mesin ATM sehingga kartu milik korban otomatis tertelan dan tidak bisa keluar,” jelas Sukirin, Kamis (9/11).

Para pelaku juga menempelkan stiker call center palsu di mesin ATM tersebut. Dengan harapan, saat kartu ATM tertelan, korban akan menelepon nomor call center palsu tersebut.

“Pelaku memberikan arahan palsu. Pelaku meminta nomor PIN korban dengan dalih untuk memblokir rekening tersebut. Usai diberitahu nomor PIN, para pelaku pun membobol tabungan korban,” kata dia.

Sukirin menguraikan dari keterangan para pelaku diketahui keduanya mempelajari cara membobol mesin ATM dari internet. Usai belajar dari internet, kemudian dipraktikkan oleh para pelaku.

“Total komplotan ini terdiri dari empat pelaku. Dua pelaku yaitu PA dan RA sudah kami tangkap. Sedangkan dua pelaku lainnya yaitu MG dan PI masih dalam proses pengejaran,” jelasnya.

Meski baru tiga pekan tinggal di Yogjakarta, komplotan ini seorang cukup mahir menjalankan aksinya.

“Mereka sebelum datang ke Yogjakarta sudah mempelajari teknik membobol ATM. Mereka sengaja memilih Yogjakarta sebagai daerah operasinya. Bahkan stiker call center palsu yang dipasang di ATM pun dicetak di daerah asalnya. Dalam beraksi mereka membagi tugasnya masing-masing. Untuk pelaku PA dan RA ini bertugas sebagai eksekutor. Sedangkan dua pelaku yang masih DPO merupakan otak. Keduanya juga bertugas sebagai call center palsu,” ujar Sukirin.

[lia]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge