0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Importir Diwajibkan Menanam Lima Persen Bawang Putih

Karanganyar — Program Komoditas Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) mewajibkan importir bawang putih menanam bibit tanaman itu di dalam negeri. Dalam hal ini, Tawangmangu menjadi salah satu ladang terekomendasi pemerintah.

”Iklim sesuai. Ketinggian cocok dan histori petani di Tawangmangu yang terbiasa menanam bawang putih. Ini yang tidak dimiliki Jenawi dan Ngargoyoso meski secara geografis sesuai untuk program itu,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Karanganyar, Riyanto Timlo.net, Minggu (5/11).

Sesuai Revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 85 Tahun 2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura yang telah dimulai Kementerian Pertanian sejak Desember 2016. Dalam pasal 11 ayat 1, 2 dan 3 draft revisi tersebut, importir diwajibkan menanam 5 persen bawang putih dari total kuota impor dengan melakukannya sendiri maupun bermitra dengan petani.

Dinas Pertanian selaku fasilitator program itu tengah mendata jumlah petani penggarap dan pemilik lahan yang bersedia bekerja sama. Importir menawarkan stimulan 500 kilogram bibit per hektar, obat-obatan dan pupuk. Saat panen, petani diwajibkan mengembalikan modal awal berupa bibit dan separuh keuntungan panen ke importir. Imporir tak menanggung kerugian petani apabila gagal panen.

“Intinya, separuh keuntungan diminta importir. Kalau gagal panen, petani tak perlu menyetor keuntungan tapi jangan meminta ganti rugi. Kami meminta bantuan kelompok Taruna Tani Maju di Pancot untuk mengkoordinasi. Siapa saja yang berminat dengan tawaran itu,” katanya.

Seleksinya, petani bukan termasuk kelompok penerima bantuan pertanian dari pemerintah tahun 2017. Mereka yang luput masuk calon penerima bantuan pertanian bersumber dana pemerintah tahun 2018, dapat diikutkan program itu.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge