0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengintip Pembuatan Batik untuk Acara Siraman Kahiyang Ayu

Pemilik Batik Pradana Jumput, Rita Andriyastuti. (foto: Heru)

´╗┐Solo – Acara siraman dan pengajian yang akan digelar sebagai prosesi awal pernikahan Kahiyang Ayu dan kekasihnya Bobby Nasution akan berhias kain jumputan. Hal ini diterangkan oleh salah pemilik Batik Pradana Jumput, Rita Andriyastuti.

Dijumpai di rumah produksinya, di Gentan, Sukoharjo, Rita menerangkan bahwa dirinya memperoleh pesanan dari Tuty Adib selaku desainer dari busana Keluarga Jokowi. Selain itu dirinya juga mendapatkan pesanan langsung kakak Ibu Iriana. Namun dirinya enggan menjelaskan, siapa nama saudara dari Ibu Presiden tersebut.

“Pesenannya 100 lembar kain itu sudah lama, sudah sebulan lalu disetorkan. Tapi kemudian ada tambahan 100 lembar lagi,” ungkap Rita, Sabtu (4/11).

Rina mengatakan pemesanan ini terlebih dulu diawali dengan pemilihan motif. Beberapa motif jumputan, seperti Gempol Rante, Cenil Kopong, Cenil Buntet, dan Tumpal Manggar diajukan ke pihak keluarga, setelah disepakati, baru proses pembuatan dilakukan.

“Karena kita itu industri kecil, Mas. Jadi memang tidak bisa bikin stok banyak. Apalagi yang untuk keluarga itu dengan bahan dari Sutra, jadi kan kita coba motifnya cocok atau tidak,” katanya.

Rina mengatakan 200 lembar kain tersebut terdiri dari dua bahan utama, yakni Sutra Krep untuk keluarga dan bahan Rayon untuk jemaah pengajian. Untuk warna, keluarga memesan 3 warna utama yakni Biru Dongker, Hijau Botol, dan Toska.

“Sementara untuk motif, saya buatkan motif kombinasi, motif ini baru dan belum diberi nama. Apa diberi nama Motif Kahiyang Ayu saja ya?” ujarnya.

Pesanan tersebut masih ditambah dengan pesanan Rimong (Selendang) ukuran 57×180 sentimeter dan Angkin (Semacam Stagen) ukuran 27×180 sentimeter untuk pelengkap busana. Namun dirinya tidak merinci jumlah pesanan Rimong dan Angkin.

“Wah saya tidak tahu, itu (Rimong dan Angkin) mau dipakai atau dipakai souvenir pengajian,” kata dia.

Rita sendiri merupakan generasi ketiga dari perajin kain jumputan di wilayah Solo. Dia mengaku saat ini kesulitan dalam mencari tenaga kerja. Wanita ini memiliki pegawai berjumlah 20 orang dan rata-rata telah berusia lanjut.

“Yang susah itu ya pekerjanya. Karena tidak semua orang bisa punya keahlian ini. Selain itu kan kain ini murni buatan tangan, jadi hasilnya (pewarnaan) terkadang beda, tergantung cuacanya,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge