0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

PKL Kuliner Dituntut Lebih Higienis

Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo (foto: Rosyid)

Solo – Pedagang Kaki Lima (PKL) kuliner di Solo dituntut untuk lebih mencermati aspek kebersihan dan kesehatan dalam mengolah produk. Peningkatan higienitas produk kuliner di tingkat PKL ini penting untuk mempertahankan daya saing mereka seiring pesatnya perkembangan bisnis kuliner di Solo.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Solo yang mengembangkan wisata kuliner di Kota Bengawan. Ditandai dengan menjamurnya restoran dan rumah makan dalam tahun-tahun terakhir.

Tak sedikit restoran yang bermain di segmen menengah ke bawah. Bila PKL tidak segera berbenah, restoran-restoran itu dikhawatirkan akan menggerus pasar yang selama ini digarap PKL kuliner.

“Yang paling dominan bisnis wedangan. Hampir di setiap sudut kota muncul wedangan,” kata Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo saat memberi sambutan dalam acara Pelatihan Pengolahan Penyajian Makanan Bagi PKL Kuliner, Rabu (1/11).

Restoran maupun rumah makan yang menyasar segmen menengah ke bawah itu tentunya mengancam kelangsungan usaha PKL dengan segala keterbatasannya. Restoran-restoran sederhana itu menawarkan layanan dan produk yang lebih baik namun tetap memberikan harga terjangkau. Bahkan sepadan dengan harga yang ditawarkan PKL kuliner.

Jumlah pelaku usaha kuliner di Solo dalam kurun waktu dua tahun terakhir melonjak tajam. Untuk warung kopi saja, jumlahnya mencapai lebih dari 80 warung kopi baru.

Jumlah tersebut melonjak tajam dari tahun 2015 yang hanya sekitar 30-an. Belum lagi kuliner-kuliner lain yang belum terdata.

“Jadi perlu adanya peningkatan higienitas baik dari sisi makanan, tempat maupun proses pengolahannya (oleh para PKL),” kata dia.

Peningkatan higienitas, lanjutnya, bisa dicapai dengan berbagai cara. Di antaranya dengan memilih lokasi yang jauh dari sumber pencemaran seperti Tempat Pembuangan Sampah (TPS) maupun pengolahan limbah.

PKL pun diminta menyediakan fasilitas kebersihan seperti air bersih, tempat sampah, dan pengendalian binatang pembawa penyakit seperti tikus dan lalat. Tak hanya itu, makanan yang disajikan pun harus bebas dari bibit penyakit dan bahan-bahan berbahaya.

“Kalau pelanggan datang, tempatnya bersih, makanannya enak, pelayanannya ramah, pasti mereka akan datang lagi membawa teman dan saudara-saudara,” kata dia.

Ia pun meminta agar PKL mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pemkot tersebut hingga tuntas. Diharapkan setelah pelatihan, PKL bisa meningkatkan daya saing mereka. Pelatihan dijadwalkan selama dua hari hingga Kamis (2/11). Materi yang disampaikan meliputi pemilihan bahan makanan, penyajian, serta peningkatan pelayanan.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge