0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Mereka Ada, Semua Jadi Mudah

(foto: Utami)

Timlo.net – Dua bulan lagi, Sumarsono hendak menikahkan anak tunggalnya. Akhir Oktober, keluarganya bersama keluarga calon mempelai lelaki rapat kumbokarnan untuk menentukan peran masing-masing anggota keluarga dalam pelaksanaan pernikahan.

Tak banyak yang dikerjakan. Kebanyakan merupakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara. Urusan teknis seperti dekorasi, konsumsi, perlengkapan dan tetek bengek lainnya.

“Sekarang gampang banget. Nggak kayak dulu,” kata Sumarsono tak membayangkan menyiapkan pernikahan anaknya akan semudah itu.

Semua sudah ditangani wedding organizer satu payung manajemen dengan gedung tempat pernikahan anaknya diselenggarakan. Awalnya ia mengira harus melibatkan keluarga besar. Bahkan tetangga-tetangganya.

Mundur ke era 1990-an, setiap orang yang punya gawe harus menyiapkan segala sesuatunya. Hidangan harus dimasak sendiri dengan sistem rewangan. Keluarga dan tetanga-tetangga dilibatkan untuk menyiapkan berbagai menu yang akan disajikan ke ratusan tamu. Belum lagi dekorasi dan perlengkapan pesta seperti meja, kursi, dan sistem tata suara.

“Semua sekarang sudah ditangani EO-nya,” kata dia.

Sumarsono tentunya bukan satu-satunya orang yang menikmati manfaat kehadiran Party Planner di Solo beberapa tahun terakhir. Melibatkan party planner dalam acara pernikahan atau perayaan ulang tahun menjadi hal yang sudah jamak.

Hanya segelintir keluarga yang mampu menyelenggarakan sendiri pesta pernikahan tanpa melibatkan party planner.
Chief Event Organizer Timlo.Net, Desmanita Saputri membenarkan dalam beberapa tahun terakhir, EO mulai terspesialisasi. Lanskap dunia EO saat ini sudah sangat berbeda dibanding tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

“Dulu event memang lebih ke lomba, gathering, dan event-event besar seperti konser,” kata dia.

Artinya, pangsa pasar EO dahulu masih terbatas pada kalangan korporasi atau instansi pemerintah. Kini, pangsa pasar dunia EO sudah merambah ke perorangan. Termasuk di antaranya wedding planner dan party planner. Hal ini didorong dengan semakin banyaknya pemilik gedung dan hotel yang aware dengan potensi pasar wedding planner dan party planner.

“Dulu gedung tidak punya divisi EO. Jadi mereka cuma menyewakan gedung saja,” kata dia.

Belakangan, pemilik gedung dan hotel mulai menyediakan jasa wedding organizer dan party planner. Jasa tersebut dibundling dengan biaya sewa gedung sehingga dijual lebih murah.

Pesanan pelanggan dikerjakan oleh satu perusahaan di dalam satu manajemen sehingga efisiensi biaya bisa dicapai. Bahkan pemilik gedung maupun hotel berani menggeratiskan biaya sewa gedung dengan hanya mengandalkan profit dari divisi EO.

Lantas bagaimana dengan pangsa pasar korporat yang memicu tumbuhnya EO di Solo? Desmanita mengaku pasar tersebut masih sangat potensial. Dideklarasikannya Solo sebagai Kota Meetings, incentives, Coferencing, and Exhibition (MICE) pertengahan dekade lalu memang memicu euforia EO di Solo. Namun sejak jabatan Presiden dipegang Joko Widodo, mantan Walikota Solo, jumlah event di Solo melonjak tajam.

“Memang dari pusat sepertinya ada dorongan agar mengadakan event di Solo,” kata dia.

Hanya saja, Desmanita mengaku tak mudah menembus segem tersebut. Apalagi kebanyakan event yang diselenggarakan menggunakan anggaran negara. Artinya, pemanfaatannya sangat terbatas sesuai aturan undang-undang sederet regulasi lain di bawahnya.

Untuk anggaran di bawah Rp 200 Juta misalnya, pemerintah biasanya menunjuk langsung EO yang menyelenggarakan. Sedangkan untuk event dengan anggaran di atas Rp 200 Juta, penyelenggara harus ditunjuk melalui mekanisme lelang yang hanya bisa diikuti EO berskala besar yang memenuhi syarat.

“Tergantung mau main di segmen mana. Yang jelas masih besar sekali peluangnya,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge