0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jembatan Mojo Ditutup, Warga pun Rela Menantang Maut

Sejumlah pengendara motor melintasi jembatan di atas sungai Bengawan Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Penutupan Jembatan Kyai Mojo di wilayah Kecamatan Pasar Kliwon, Solo berdampak pada menumpuknya arus lalu lintas di sisi timur jembatan. Masyarakat yang hendak melintas pada Jumat (17/10) pagi, terpaksa berputar arah atau menggunakan jembatan bambu sebagai jalur alternatif yang berada di Kampung Mbeton, Kelurahan Sewu.

“Saya belum tahu Mas, kalau jembatannya ditutup,” ujar Dewi, seorang warga yang melintas di jembatan bambu, saat berbincang dengan Timlo.net.

Warga Polokarto, Sukoharjo ini mengatakan, dirinya baru mengetahui jembatan ditutup saat hendak melintas pagi ini. Dia mengaku terpaksa menggunakan jembatan bambu lantaran tidak ingin terlambat masuk kerja.

Lha wong sudah terlanjur sampai sini. Kalau ditanya takut ya takut (lewat jembatan bambu). Tapi kalau mau muter kan jauh. Telat nanti kerjanya,” ujarnya.

Senada dengan Dewi, salah seorang pengguna Jembatan Bambu, Guntur mengatakan, ia terpaksa menggunakan jembatan itu. Dikatakan, sekali melitas, pengendara sepeda motor dikenakan biaya Rp 2000.

“Saya beberapa kali lewat jembatan ini, biasanya ngasih sukarela, tapi kali ini harus bayar Rp 2000, tapi kalau jalan kaki gratis,” kata Guntur.

Berdasarkan pengamatan Timlo.net, jembatan bambu selebar 1,5 meter tersebut tidak dilengkapi dengan tiang pengaman. Hal ini cukup membahayakan bagi warga yang melintas. Struktur jembatan yang terbuat dari kayu juga kerap bergeser dan bergoyang-goyang saat dilintasi.

Penutupan Jembatan Mojo yang menghubungkan Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo tersebut disebabkan adanya perbaikan di bagian lantai jembatan dan tiang penyangga. Rencananya jembatan Kyai Mojo akan ditutup selama 10 hari, mulai tanggal 27 Oktober hingga 5 November 2017.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge