0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Investor Ingin Bangun Hotel, Satu Ditolak Warga karena Alasan Ini

(Warga memasang spanduk menolak pembangunan hotel, Rabu (25/10/2017) )

Klaten – Warga RT 01 RW 03 Ringinrejo, Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan Klaten, menolak berdirinya sebuah hotel di wilayah mereka. Mereka keberatan, karena calon hotel di jalan raya Solo-Jogja itu tergabung dalam grup hotel yang selama ini dikenal menjadi ajang perbuatan asusila.

“Sejak awal warga kami menolak, bahkan sudah ada surat penolakan tanggal 11 Januari 2017 yang ditandatangani 43 warga. Meski, memang akhirnya ada juga sekitar 6-7 warga yang terbujuk untuk mendukung,” ujar Budi Prawoto, Ketua RW 03 kepada Timlo.net, Rabu (25/10)

Budi didampingi wakil pemuda setempat, Galih Budi Kurniawan menjelaskan, sejak setahun lalu memang ada dua pihak investor yang ingin membangun hotel di Ringinrejo. Investor yang pertama, disambut baik karena warga pun merasa diuntungkan.

“Diawali pendekatan yang baik, ada sejumlah kontribusi untuk kampung. Tapi yang jelas investor pertama bukan dari grup hotel yang berkonotasi negatif. Bahkan sudah ada kesanggupan untuk menjaga kondusivitas wilayah,” paparnya.

Ditambahkan, investor pertama hingga saat ini belum memulai pembangunan hotel, meski kontribusi ke warga berupa pembangunan gudang peralatan PKK sudah terwujud, bahkan perizinan ke Pemkab Klaten pun menurut Budi sudah lengkap.

Investor kedua, menurut Budi, juga mengawali rencana dengan mendekati warga. Bedanya, begitu warga tahu yang akan dibangun adalah hotel yang namanya identik dengan perselingkuhan, mereka spontan menolak.

“Coba silakan cek, Hotel Srikandi tersebar banyak. Semuanya sama, menerima tamu jam-jaman, umumnya pasangan yang bukan suami istri. Sewajarnya kami ingin menjaga ketenteraman dan kewibawaan kampung,” tandasnya.

Masalah timbul ketika pihak investor berhasil mendapatkan tanda tangan beberapa warga yang semula ikut menolak.

“Memang ada aksi door to door dari investor. Saya juga dihubungi dan diiming-imingi uang. Tapi sebagai Ketua RW tentu saya berpegang pada kesepakatan warga dulu,” tutur Budi.

Rabu pagi, Budi dan sejumlah warga sempat memasang spanduk penolakan di lokasi pembangunan hotel. Namun, setelah warga berlalu, spanduk itu langsung hilang. Para pekerja proyek pun terlihat tetap bekerja seperti biasa.

“Ya, tadi saya dikabari memang ada yang mencopot spanduknya. Tidak apa-apa, besok warga akan dikumpulkan di kelurahan, kami akan menyampaikan penolakan kami ke pemerintah,” kata Budi.

Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge