0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Banyak Toko Ritel Gulung Tikar, Kalah Saingan Atau….

Sri Mulyani (merdeka.com)

Timlo.net – Sejumlah toko ritel menutup gerai mereka beberapa waktu terakhir. Diantaranya PT Modern Internasional Tbk (7-Eleven), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (Ramayana), dan sejumlah ritel lain.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya masih akan terus memonitor perubahan pola konsumsi masyarakat sebagai dampak era digitalisasi. Nantinya akan dikaji apakah toko-toko yang tutup secara fisik membuka toko kembali secara online.

“Kita terus memonitor perubahan dari perekonomian diakibatkan adanya era digitalisasi. Jadi dalam hal ini adanya ritel yang berubah bentuknya atau dalam hal ini secara fisik tutup tapi kemudian pindah ke online atau dari awalnya online itu semua menjadi salah satu perhatian kita,” ujar Menkeu Sri di Jakarta, Selasa (24/10).

Menkeu Sri mengatakan, industri ritel memang menjadi perhatian khusus pemerintah. Sebab, industri ritel erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Selain sektor ritel, pemerintah juga mengamati kondisi dari sektor lain apakah ada indikasi penurunan penjualan akibat digitalisasi.

“Ekonomi di Indonesia terdiri dari berbagai sektor, ritel merupakan salah satu hal yang juga akan kita pantau. Karena berhubungan dengan kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Kita juga akan melihat kepada sektor lain apakah kita menghadapi tekanan atau perubahan karena adanya konsep digitalisasi ini,” jelasnya.

Namun demikian, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menegaskan, hingga September sisi penerimaan perpajakan dari sektor ritel menunjukkan peningkatan. Artinya, indutri ritel cukup menunjukkan kinerja baik di tengah isu penutupan sejumlah toko.

“Dilihat dari sisi penerimaan perpajakan sampai dengan September kemarin sebetulnya untuk ritel PPN kita meningkat. Jadi mungkin ada perubahan dalam hal ini,” jelasnya.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan tutupnya sejumlah gerai ritel karena persaingan yang semakin ketat. Selain itu, letak toko ritel yang tidak strategis juga menjadi penyebab bangkrutnya toko tersebut.

“Kalau toko ritel contohnya Sevel itu kan secara bisnis, jadi kalau salah bisnis sulit menghadapi persaingan ya bisa tutup. Kemudian, toko ritel harus berada di lokasi yang tepat, nah persoalannya kadang kadang lokasinya enggak tepat,” ujar Airlangga.

Airlangga tidak menampik adanya pergeseran pola konsumsi menjadi penyebab tutupnya sejumlah toko ritel. Namun dia meminta, apabila terjadi perubahan pola konsumsi perusahaan yang memutuskan menutup gerai harus memperhatikan nasib para tenaga kerja yang terdampak penutupan tersebut.

“Kalau shifting itu pasti ada ya. Maksudnya perubahannya dari beli langsung di toko kemudian beralih ke online. Tapi ya itu, kalaupun ada alasan tersebut perusahaan harus tetap memikirkan tenaga kerjanya,” tandasnya.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge