0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jenderal M Jusuf, Pangab yang Menolak Disepelekan Amerika

(Jenderal TNI M Jusuf)

Pemerintah Amerika Serikat melarang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk ke negaranya, meski Jenderal Gatot ke sana untuk menghadiri undangan dari pihak militer AS. Di masa lalu, Menteri Pertahanan/Panglima ABRI Jenderal TNI M Jusuf justru pernah membatalkan kunjungan dinas ke Amerika karena kedatangannya hanya akan diterima oleh Wakil Presiden.

Suatu hari di bulan Mei 1982, Rombongan Menhamkan Pangab sedang transit di Tokyo, Jepang, dalam perjalanan ke Washinton DC, Ibu Kota Amerika Serikat. Jenderal Jusuf membawa surat pribadi Presiden Soeharto, untuk diserahkan kepada Presiden AS Ronald Reagan.

Namun, baru beberapa jam di Tokyo, Atase Pertahanan Kedubes RI melapor ke Jenderal Jusuf bahwa ada perubahan acara. Karena ada “rencana mendadak” maka Presiden Ronald Reagan batal menemui Jusuf, dan akan diwakili oleh Wakil Presiden George Bush.

Mendengar laporan itu, Jusuf mengucapkan terimakasih dan mengatakan tidak akan melanjutkan perjalanan ke Amerika. Dia memerintahkan pembatalan itu disampaikan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC, tentunya dengan alasan yang disusun menurut basa-basi diplomatik.

Larut malam itu juga, Boeing 707 TNI AU yang membawa rombongan Jenderal Jusuf kembali ke Jakarta. Pagi harinya, Jusuf langsung melapor ke Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana.

“Saya membawa surat dari Bapak Presiden untuk diserahkan ke Presiden Amerika Serikat. Kalau yang bersangkutan tidak ada, buat apa saya melanjutkan perjalanan,” kata Jusuf, sebagaimana tertulis dalam biografinya M Jusuf, Panglima Para Prajurit yang ditulis oleh Atmadji Sumarkidjo, tahun 2006.

Sikap Jenderal Jusuf, ternyata bisa diterima oleh Soeharto. Amerika pun buru-buru mengutus Atase Pertahanan Kolonel Kzifrian untuk meminta maaf langsung kepada Jenderal Jusuf, sambil menyatakan diberi wewenang pemerintahnya untuk mengatur kunjungan secepatnya.

Tercatat, kunjungan Menhankam/Pangab ke Amerika Serikat dilakukan pada akhir Juli 1982. Jenderal Jusuf diterima langsung oleh Presiden Reagan, dengan upacara penyambutan yang pantas. Meriam salvo berdentum 19 kali dan lagu kebangsaan dua negara diperdengarkan.

Kunjungan saat itu juga menjadi moment penting untuk modernisasi persenjataan TNI. Selain beberapa kerja sama pelatihan perwira di Amerika, Indonesia juga mendapat kesempatan untuk membeli sejumlah pesawat angkut Hercules dan pesawat tempur supersonik F-5E Tiger.

Jenderal Jusuf dalam bagian lain di biografinya menyebutkan, penolakan yang dia lakukan terhadap Amerika telah menimbulkan gejolak. Karena itulah, di hari akhir dia menjabat sebagai Menhankam/Pangab dia khusus menelepon seorang kolonel yang saat kejadian itu menjabat Atase Pertahanan di AS. Jusuf menawarkan apa yang diinginkan oleh perwira itu darinya.

Di luar dugaan, perwira yang tidak disebut namanya itu meminta tongkat komando milik Jusuf. Sebuah tongkat berbentuk sederhana hanya seperti dahan pohon biasa, namun selalu dibawa Jusuf yang saat itu sangat populer karena sejumlah kebijakannya yang membuat ABRI terasa dekat dengan rakyat.

Kenapa tongkat yang sudah dianggap setengah keramat oleh banyak orang itu diberikan begitu saja kepada orang yang tidak dikenal akrab olehnya? “Kasihan dia, dia sudah disemprot banyak orang waktu kita batal ke Amerika dulu,” jelas Jusuf.

Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge