0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kurangi Kemacetan di Kota Solo, Begini Jurusnya

Jalur lambat untuk pengguna jalan nonmotor (becak dan sepeda) (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Di banyak daerah, macet selalu menjadi momok. Bising mesin kendaraan, asap sisa pembakaran, antrean kendaraan memanjang. Ia mengatrol tingkat polusi, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan menekan tingkat kebahagiaan publik. Tak ada yang bisa diharapkan. Ya, siapa yang bahagia dengan kemacetan?

Tak heran, Solo sebagai salah satu kota dengan tingkat pertumbuhan di atas rata-rata nasional mulai menyiapkan jurus jitu untuk mencegah kemacetan. Sepeda angin. Ramah lingkungan, hemat ruang, dan menurut penelitian membawa kebahagiaan.

“Dari sisi sarana pendukung kita sudah sangat bagus,” kata Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, Rabu (18/10).

Omongan Rudy bukan tanpa bukti. Prestasi Solo dalam menyediakan sarana untuk pesepeda cukup membanggakan. Jalur pesepeda bisa didapati sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jenderal Sudirman, hingga Urip Sumoharjo. Di sepanjang Jalan Adi Sucipto dari Gapura Makutha terus bersambung hingga persimpangan MT Haryono-RM Said. Di Jalan Kolonel Sutarto dari Gereja St Maria Regina Purbowardayan hingga Jurug melalui Ir Sutami. Intinya, hampir semua jalur utama di Solo sudah dilengkapi sarana untuk para gowesmania.

Panjang jalur pesepeda di Solo mencapai 28 Kilometer yang konon merupakan yang terpanjang di Indonesia. Kondisinya pun lumayan bagus dan relatif terawat khususnya jalur-jalur yang di bawah binaan Pemkot Solo. Selain jalur pesepeda di Jalan Jenderal Sudirman, semuanya dilengkapi batas batas pemisah antara jalur lambat dengan jalur cepat. Tentunya hal ini membuat pesepeda merasa lebih aman. Aspalnya pun relatif rata dengan sedikit lubang. Hanya jalur di Kolonel Sutarto dan Ir Sutami yang perlu perhatian khusus. Namun sayangnya, jalur tersebut merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pemkot sudah berulang kali sejak bertahun-tahun lalu menyurati Pemprov Jateng agar segera membenahi jalur terebut. Namun agaknya, surat-surat itu tak berbalas. Kondisi jalur-jalur tersebut masih berlubang-lubang bahkan sebagian terhalang bangunan permanen. Bahkan Pemkot sempat meminta pengelolaan jalur tersebut kepada Pemprov agar bisa langsung memperbaiki.

“Atau kalau nggak mau ngasih, paling tidak ada perintah kepada kita untuk memperbaiki. Jadi kita mengerjakan itu (jalur lambat) ada dasarnya biar tidak salah,” kata dia.

Meski soal jalur lambat di Ir Sutami belum diselesaikan, bukan berarti Pemkot berpangku tangan. Beberapa bulan lalu, Pemot terus mendorong penyediaan sarana bagi pesepeda dengan membuat ruang tunggu sepeda di simpang Gendengan.

“Kita baru tahap uji coba. Rencananya akan dikembangkan ke persimpangan-persimpangan lain,” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge