0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Aroma Belerang Gunung Agung Semakin Kuat

Gunung Agung Bali (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Berdasarkan informasi terakhir dari pendaki PVMBG, aroma belerang di puncak Gunung Agung sudah sangat kuat dengan radius 700 meter dari bibir kawah.

Hal itu dibenarkan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika, saat berada di pos pengamatan Gunung Agung di Karangasem, Bali.

Kuatnya aroma belerang yang begitu dekat di radius 700 meter lantaran adanya pelebaran kawah dari Gunung Agung saat ini. Di mana saat ini lebar kawah dari gunung tertinggi di Bali ini sudah mencapai 900 meter.

“Bau belerang makin dekat mengingat diameter kawah mencapai 900 meter,” akunya.

Menurut Suantika, itu akibat dasar kawah yang cukup panas yang disertai tingginya curah hujan yang berakumulasi ke dasar kawah. Hal itu juga menimbulkan reaksi pelepasan asap ke atas yang cukup tinggi.

“Asap putih yang keluar ini seperti uap air yang mendominasi, yang apabila berada di dekat asap putih ini sangat berbahaya,” katanya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klungkung, Bali, I Putu Widiada, meyakinkan bila terjadi letusan pada gunung Agung. Maka kata dia, maka lemparan material kawah gunung ini paling jauh dengan radius 9 kilometer.

Hal itu diketahui setelah dirinya mendatangi Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang Karangasem dan berdialog labgsung dengan Kepala PVMBG, Kasbani.

“Ya keterangan dari pak Kasbani bahwa untuk akses awan panas yang keluar dari Gunung Agung bisa mengalir sejauh 12 kilometer. Untuk lemparan material kawah gunung ini paling jauh di radius 9 kilometer,” tuturnya.

Untuk data terakhir jumlah pengungsi yang diterimanya khusus di Klungkung masih sebanyak 18.729 jiwa. Di mana pengungsi yang berasal dari wilayah KRB berjumlah 17.402 jiwa dan non-KRB sebanyak 1.327 jiwa.

Jumlah itu tersebar di 42 desa dan 121 titik posko Pengungsian di Klungkung. “Data ini bisa saja berubah-ubah, karena warga yang pulang dan pergi akan terus terjadi, namun tidak signifikan,” ujanya.

Dia mengatakan, banyak para pengungsi datang dan kembali ke pengungsian karena mereka mengurus hewan ternaknya yang ditinggalkannya di desa. [gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge