0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Merawat Sejarah Prasasti Kedung Kopi

Prasasti Kedung Kopi (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo — Sekilas, prasasti itu tampak seperti bongkahan batu besar biasa. Kalau bukan karena ada plakat “benda cagar budaya” di sampingnya yang terbuat dari marmer hitam mengkilat, rasanya orang-orang hanya akan melintasinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Apalagi letaknya di tepi sungai. Tempat yang sangat umum ditemui “batu” berukuran besar.

Relief pancasila di bagian atasnya menjadi kasar tergerus zaman dan aliran Bengawan Solo. Masih teraba memang. Tapi detilnya mulai pudar. Tanduk sebelah kanan Kepala Banteng, lambang sila keempat nyaris hilang.

“Prasasti ini kan bukti sejarah kita. Kalau hilang, anak-anak kita tidak akan tahu,” kata Ketua Sibat Sewu, Budi Utomo, di sela kerja bakti membersihkan Monumen Perisai Pancasila, Minggu (1/10).

Tahun 2011 lalu, kondisinya masih sedikit lebih baik. Pondasinya masih tertanam di bawah tanah. Di sekitarnya ada rumpun-rumpun bambu yang seolah melindunginya dari hantaman banjir. Namun saat timlo.net mengunjunginya Minggu (1/10), pondasinya telah tersingkap. Seolah prasasti itu hanya diletakkan begitu saja di atas tanah. Rumpun-rumpun bambu di sekelilingnya pun hilang dibabat pembangungan parapet Bengawan Solo.

Seperti itulah kini kondisi Monumen Perisai Pancasila. Orang-orang tua menyebutnya dengan nama tempat prasasti itu berada, Kedung Kopi. Mengingat kondisinya yang kritis, sejumlah warga pun tergerak bekerja bakti membersihkan sekitarnya. Kerja bakti diikuti sejumlah kelompok relawan seperti Sibat Sewu, Komunitas Relawan Independen, dan ibu-ibu PKK Pucangsawit.

“Memang hanya membersihkan sampah-sampah di sekitarnya saja. Tapi harapan kami dengan ada kegiatan seperti ini akan muncul kepedulian masyarakat dan Pemerintah,” kata Budi.

Sebelum kerja bakti dimulai, peserta mengikuti apel yang dipimpin oleh Budi. dalam amanatnya, Budi mengingatkan peristiwa yang terjadi di Kedung Kopi sehingga dibangun prasasti di tempat itu. 22 Oktober 1965 lalu, 13 jenazah aktivis yang menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) ditemukan di lokasi tersebut. Sehari sebelumnya mereka hilang sepulang dari rapat koordinasi di Balai Muhammadiyah di Keprabon. Sejarah itu kini mulai dilupakan, seperti dilupakannya nasib Prasasti Perisai Pancasila yang dibangun untuk mengenangnya.

Prasasti Kedung Kopi (timlo.net/ichsan rosyid)

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge