0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hujan, Petani Tembakau Merapi Merbabu Resah

Demi mengejar kwalitas,petani tembakau Selo terpaksa menjemur tembakau di wilayah Banyudono (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Kondisi cuaca yang tidak menentu di Lereng Merapi Merbabu membuat kalangan petani tembakau resah. Pasalnya, petani tembakau saat ini sangat membutuhkan sinar matahari untuk proses pengeringan tembakau rajangan.

“Sudah tiga hari ini turun hujan,cuaca juga mendung sama sekali tidak ada sinar matahari,” kata Sabarno, warga Selo, Boyolali, Rabu (27/9).

Bila cuaca terus mendung, Sabarno mengaku khawatir akan harga jual tembakau rajangan yang saat ini sedang tinggi-tingginya. Pasalnya, tembakau rajangan harus kering dalam waktu satu hari. Bila lebih, kualitas tembakau akan turun dan terancam terkena jamur.

“Kalau sudah begitu, harga langsung anjlok,” tambahnya.

Untuk saat ini, diakui harga tembakau rajangan sedang tinggi-tingginya, yaitu berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu perkilogram. Namun, bila kwalitas turun, hanya akan laku Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Untuk menjaga kualitas tembakau tetap baik, sejumlah petani turun ke bawah untuk mencari lokasi yang sinar mataharinya cukup. Salah satunya di proyek jalan tol Soker, Banyudono.

“Lokasinya luas dan matahari sangat bagus, satu hari bisa kering,” ujar Winarno, petani lain.

Sedangkan untuk menghemat biaya selama pengeringan tembakau di wilayah bawah, petani terpaksa menginap di lokasi.

“Sengaja kita menginap, menghemat biaya produksi,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge